Jumat, 10 April 2026

Polemik Gafatar

Gafatar Yakin Indonesia akan Alami Paceklik Panjang, Ini Indikatornya

Budi menambahkan, Gafatar memiliki keyakinan Indonesia akan dilanda paceklik pangan berkepanjangan. Ini terjadi karena kondisi mental para pemimpinnya

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Parmin
twitter.com/gafatar
ILUSTRASI - Salah satu pamflet Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Mantan pentolan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Kota Surabaya, menolak bertanggung jawab atas menghilangnya sejumlah orang yang selama ini disinyalir bergabung dengan organisasi tersebut.

Mantan Ketua Dewan Pimpinan Kota (DPK) Gafatar Surabaya Riko menganggap sejumlah orang yang putus komunikasi dengan keluarga merupakan tanggung jawab sendiri-sendiri.

“Gafatar sendiri sudah bubar. Bahwa setelah bubar ada orang yang hilang dan meninggalkan tugas, itu adalah tanggung jawab pribadi masing-masing," kata Riko didampingi dr Budi Leksono, mantan Ketua Bidang Kesehatan Gafatar Surabaya, Rabu (13/1/2016).

Riko menyebutkan, kemungkinan mereka yang hilang kontak dengan orang terdekatnya itu yakin dengan akidah masing-masing dan apa yang akan terjadi, sehingga mereka lebih senang meninggalkan tugas utamanya.

Budi menambahkan, Gafatar memiliki keyakinan Indonesia akan dilanda paceklik pangan berkepanjangan. Ini terjadi lantaran kondisi mental para pemimpin dan masyarakat bangsa Indonesia sudah rusak.

Indikatornya adalah sifat individualisme, korupsi, nepotisme, dan materialistis masyarakat.

Itu menjadi alasan Gafatar mengutamakan gerakan yang fokus pada sektor pertanian, perikanan, dan peternakan.

Riko yang bergabung dengan Gafatar sejak 2008 ini mengatakan, Indonesia sedang mengalami krisis moral. Jika terus terjadi, bukan mustahil negeri ini mendapat kutuk.

Dan ini terbukti dengan munculnya tanda-tanda alam semesta seperti perubahan iklim dan sebagainya.

Menurut Riko, karena kondisi tersebut membuat seluruh anggota Gafatar memutuskan bertindak dengan mempersiapkan diri.

“Setidaknya supaya tetap bisa hidup, orang harus bisa makan. Jika ekonomi kacau maka kita harus mempersiapkan, minimal dengan menanam sendiri. Bahkan sebelum apa-apa, di rumah masing-masing kita juga telah menanam,” lanjut Riko.

Dipilihnya Kalimantan sebagai tempat menjalankan keyakinan mereka, menurut Riko lebih didasarkan pada ketersediaan lahan yang luas dan kesuburan tanah. Mereka selain menggarap tanah milik anggota Gafatar yang bermukim di Kalimantan, juga dengan mengajak kerjasama masyarakat setempat dengan sistim berbagi hasil.

Anggota Gafatar sendiri menurut Riko, tidak memiliki kewajiban untuk berhijrah. Akan tetapi pihaknya mengakui telah berbicara dengan orang per orang yang dianggap telah memahami kitab suci.

“Kalau mereka menganggap yakin dengan itu ya silahkan lakukan. Jadi itu sudah di luar konteks Gafatar,” ujar Riko.

Kelompok-kelompok yang memutuskan pergi dan memutus komunikasi dengan orang-orang terdekat mereka, dikatakan bukan lagi anggota Gafatar ataupun bernama lain. Mereka dikatakan Riko merupakan kelompok tidak bernama dan tidak berafiliasi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved