Rabu, 8 April 2026

Berita Ekonomi

Indonesia Tolak Nol-kan Tarif Impor Gula

Direktorat Pemasaran Internasional Kementerian Pertanian, Okta Muchtar memastikan bahwa Indonesia tetap berkomitmen memperjuangkan pengecualian impor

Penulis: M Taufik | Editor: Adrianus Adhi

SURYA.co.id I SURABAYA - Direktorat Pemasaran Internasional Kementerian Pertanian, Okta Muchtar memastikan bahwa Indonesia tetap berkomitmen memperjuangkan pengecualian penurunan tarif impor untuk gula. Ini karena gula merupakan komoditas strategis yang berkaitan dengan nasib ratusan ribu orang.

Ia menjelaskan Indonesia dan Thailand saat ini memang berupaya meningkatkan kemitraan di bidang industri gula. Kemitraan dibangun untuk menjalin kesepahaman terkait pengecualian penurunan tarif impor gula dalam kerangka ASEAN Free Trade Agreement (AFTA), di mana Indonesia masih mematok tarif impor gula dari negara ASEAN, yaitu sebesar 5 persen.

"Dalam hal pengecualian penurunan tarif impor gula, pemerintah Indonesia dan Thailand bersepakat melakukan komunikasi intensif agar tercipta kesepahaman mengapa Indonesia tetap ingin mempertahankan tarif impor gula,” kata Okta usai bertemu delegasi industri gula Thailand di Surabaya, Jumat (27/11/2015).

Dikatakannya, kedua negara juga telah melakukan tujuh kali pertemuan yang digelar bergantian di Indonesia dan Thailand agar tumbuh saling pengertian terkait masalah tarif impor.

”Kami berkepentingan agar petani lokal terlindungi. Di sisi lain, Thailand membidik Indonesia sebagai pasar ekspor mereka,” ujarnya.

Sekadar diketahui, Thailand memang salah satu produsen utama gula dunia dengan total produksi lebih dari 10,6 juta per tahun yang diproduksi dari 50 pabrik gula. Jumlah itu jauh lebih besar dari kebutuhan lokal, yang mencapai 2 juta ton per tahun. Sisa produksi tersebut menjadikan Thailand sebagai salah satu eksporter gula terbesar dunia bersama Brasil.

Sekadar diketahui juga bahwa ekspor gula Thailand ke Indonesia mencapai 30 persen dari total produksi gula mereka per tahun.

Kualitas gula Thailan juga baik. Tingkat rendemen (kadar gula dalam tebu) di Thailand bisa sampai 12 persen. Biaya produksi gula di negeri Gajah Putih itu juga sangat efisien, hanya berkisar Rp 4.000 per kilogram.

Sementara produksi gula Indonesia, sebagai perbandingan, baru berkisar 2,6 juta ton dari 62 pabrik gula yang ada. Kapasitas giling seluruh pabrik gula di Indonesia masih jauh di bawah Thailand, yakni 205.000 ton tebu per hari. Adapun rata-rata biaya produksi gula di Indonesia masih cukup tinggi, bahkan ada yang masih di atas Rp 8.000 per kilogram. Tingkat rendemen juga baru mencapai 7-8 persen.

Senior Expert Pergulaan Kementerian Perindustrian Thailand, Porntip Siripanuwat, mengatakan bahwa pihaknya sebenarnya berharap Indonesia bisa menurunkan tarif pajak impor gula hingga nol persen sesuai skema pasar bebas.

”Kami ke sini dalam rangka berkomunikasi dan melakukan bilateral consultative meeting agar tarif bisa dinolkan, meski mungkin bertahap,” jawabnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved