KM Wihan Sejahtera Tenggelam
Dalam Kondisi Hamil, Theresia Bergelantungan di Kapal
Theresia sadar, ia harus berhati-hati karena dalam kondisi hamil. Namun di sisi lain, ia berlomba dengan waktu agar bisa secepatnya lolos dari maut.
Penulis: Benni Indo | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Untuk sementara waktu, keinginan Theresia Tolo (22) menikmati keceriaan berkumpul dengan keluarga besar di kampung halamannya di Kab. Negekeo, Kec. Keo Tengah, Desa Kotodirumali, Flores tertunda. Apalagi, ia telah menyandang gelar sarjana setelah diwisuda pada 12 September 2015. Pulang ke kampung halaman dengan membawa ijazah sarjana sudah didambakan sejak lama olehnya.
Namun nasib berkata lain. Keinginan yang hampir saja terwujud itu buyar tatkala kepal yang ia tumpangi untuk pulang kampung tenggelam setelah sekitar 10 menit lepas dari Pelabuhan Tanjung Perak, Kota Surabaya pada Selasa (16/11/2015).
Mahasiswi lulusan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Budi Utomo Malang itu justru harus menginap di Rumah Sakit (RS) Port Health Center (PHC), Tanjung Perak, Surabaya. Theresia dirawat di RS PHC sejak Senin (16/11/2015).
Surya.co.id berkesempatan menemui Theresia di RS PHC, Tanjung Perak, Surabaya. Ia berbaring di kamar rawat. Sedangkan suaminya, Anselmus Keze (26), tertidur pulas di lantai pojokan kamar. Beberapa temannya dari Malang terlihat bermain kartu saat menjenguk Theresia yang terbaring lemah.
Di balik musibah yang menimpa, Theresia tetap menaruh rasa syukur. Pasalnya, ia bisa selamat dari musibah yang baru pertama kali ia alami itu. Terlepas dari itu, Theresia tengah mengandung dengan usia kandungan dua bulan.
“Puji Tuhan saya masih selamat,” katanya bersyukur, Selasa (17/11/2015).
Padahal, untuk bisa selamat, Theresia harus berjuang keras melawan takut. Ia dan suaminya sama-sama tidak bisa berenang. Tapi mereka berani ambil resiko saat KM Wihan Sejahtera yang mereka tumpangi mulai tenggelam.
Ketika KM Wihan Sejahtera dalam kondisi miring, kedua pasang sejoli itu langsung bergegas menyelamatkan diri. Theresia sadar, ia harus berhati-hati karena dalam kondisi hamil. Namun di sisi lain, ia berlomba dengan waktu agar bisa secepatnya lolos dari maut.
Motor Honda Supra X, kardus berisi pakaian dan ijazah sarjana miliknya ditinggal begitu saja. Hanya tas yang berisi laptop dan tiga ponsel saja yang sempat dibawa oleh Theresia. Dalam kondisi panik, Theresia tidak tahu harus lari ke arah mana.
“Petugas sempat meminta kami tetap tenang. Bagaimana bisa tenang kalau kapal sudah miring?” paparnya.
Theresia dan Anselmus memilih lari menyelamatkan diri. Mereka saat itu berada di dek tiga. Lalu lari ke pinggir kapal yang posisinya lebih tinggi. Dilihatnya tidak ada jalur keluar yang aman. Namun karena terlalu panik, kedua pasangan itu akhirnya melompat ke bawah ke dek dua.
“Jaraknya cukup tinggi. Sekitar 10 meter lebih. Aku sudah kehabisan pikir,” terang mahasiswi penyandang gelar sarjana keguruan biologi itu.
Theresia dan Anselmus tiga kali meloncat dari ketigngian sekitar 10 meter sebelum akhirnya berada di kapal tim penyelamat. Saat meloncat pada kali kedua, di situlah Theresia mengalami pendarahan. Kakinya tersangkut pada besi. “Seperti duduk di kuda gitu,” ungkapnya.
Meskipun sudah mengetahui ia mengalami pendarahan, ia tidak berhenti. Theresia tetap berjuang menyelamatkan diri. Dengan sisa napas yang ada, kali ini ia bergelantungan pada tali agar bisa turun menuju kapal penyelamat. Sementara itu, darah terus mengalir membasahi.
Setelah dekat dengan permukaan air, Theresia dan suaminya tidak terjun ke kapal penyelamat, melainkan terjun ke air laut. Seketika, air laut di sekitar Theresia berenang berubah warna merah karena darah.
