Jumat, 15 Mei 2026

Berita Mojokerto

Rumah Majapahit Beralih Fungsi Menjadi Toko

Di Desa Jatipasar terdapat Candi Wringin Lawang yang dipercaya sebagai pintu masuk menuju Kraton Majapahit.

Tayang:
Penulis: Anas Miftakhudin | Editor: Wahjoe Harjanto
surya/anas miftakhudin
BERALIH FUNGSI - Rumah Majapahit yang dibangun untuk penginapan wisatawan yang berkunjung ke berbagai situs di Trowulan banyak beralih fungsi menjadi kios atau tempat jualan, Minggu (25/10/2015). 

SURYA.CO.ID | MOJOKERTO - Rumah Majapahit nan eksotis yang disediakan untuk penginapan wisatawan lokal maupun mancanegara saat berkunjung ke Trowulan, Kabupaten Mojokerto, banyak yang beralih fungsi sebagai toko, artshop dan warung oleh-oleh.

Pembangunan Rumah Majapahit itu sendiri total ada 296 unit yang tersebar di 3 Desa di Kecamatan Trowulan, Mojokerto, yakni Desa Jatipasar, Sentonorejo dan Bejijong.

Namun sampai saat ini bangunan yang rampung masih 137 unit dan sisanya ditargetkan selesai akhir tahun ini. Rumah Majapahit di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan ada 94 unit sudah selesai dibangun.

Bangunan yang mengadopsi rumah era Majapahit ini untuk menunjang sejumlah objek wisata sejarah di Desa Bejijong, yakni Maha Vihara Majapahit, Makam Siti Inggil, Candi Brahu dan Candi Gentong.

Masyarakat yang datang ke berbagai situs kuno itu bisa mampir dan menginap di Perkampungan Majapahit dan diharapkan bisa menggali cerita dari warga terkait situs yang ada.

Namun fungsi itu sampai kini belum berjalan. Bangunan yang ada dipakai warga untuk membuka warung, toko, dan kios bensin. Dari deretan selatan menuju utara, Rumah Majapahit yang dibangun di depan rumah warga, rata-rata pintunya tertutup sehingga terkesan tak berpenghuni.

Kalau pun ada yang dibuka, di dalam rumah unik berlantai keramik ini tidak ada apa-apanya atau kosong melompong. Akhirnya warga berinisiatif membuka toko di bangunan itu.

"Sejak awal sosialisasinya disuruh untuk usaha dagang, itu yang bilang panitia pembangunan Rumah Majapahit," ujar Warsito (55), pemilik Rumah Majapahit di Desa Bejijong, 25 Oktober 2015.

Warsito memanfaatkan bangunan itu untuk toko kelontong, kios bensin dan art shop. Dalam bangunan rumah ukuran 3 x 5 meter itu, Warsito menjual berbagai kerajinan yang diproduksi warga lokal, seperti arca kuningan, gerabah, sembako, hingga rokok.

Semenjak Rumah Majapahit dibangun, Warsito mengakui banyak wisatawan datang ke art shop yang dikelola. "Sejak ada bangunan ini, banyak wisatawan yang mampir untuk foto, melihat dan membeli dagangan saya. Kalau dipakai penginapan sudah telanjur, dagangan saya ditaruh mana," paparnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Mojokerto, Didik Chusnul Yakin menuturkan, Rumah Majapahit itu untuk menghidupkan kembali kebudayaan Majapahit di tengah-tengah masyarakat.

Pembangunan 296 unit Rumah Majapahit ini untuk menunjang atau mengatrol wisatawan yang berkunjung ke Trowulan. "Rumah itu nantinya bisa menjadi homestay bagi wisatawan yang ingin menginap, menjadi objek wisata budaya, menjadi bagian dari sarana pendidikan," ujarnya.

Adanya rumah yang seharusnya untuk homestay kemudian dipakai usaha dagang, Didik mengaku masih belum mensosialisasikan ke warga.

"Memang nantinya ada program lanjutan. Misalnya jika diproyeksikan sebagai homestay maka diperlukan edukasi bagaimana cara menerima tamu, pelayanan tamu. Pokoknya memanjakan tamu. Nah itu yang akan kami lakukan setelah semua pekerjaan selesai semua," paparnya.

Tahap pertama pembangunan Rumah Majapahit yang dimulai awal 2015 telah merampungkan 137 unit. Bangunan eksotik ini mendapat anggaran dari Pemprov Jatim dan Pemkab Mojokerto senilai Rp 7,4 miliar dan tersebar di 3 Desa di Kecamatan Trowulan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved