Berita Malang Raya

Tari Tradisional Kreasi Gantikan Dance

“Tahun lalu kami juga ikut dance, tapi sekarang lebih seru karena lebih banyak kreasi unik dari budaya Kalimantan yang kami angkat,” terangnya saat di

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Yoni
surya/Sulvi Sofiana
Gelaran tari kreasi oleh siswa SMP di Dempo Cup XI 2015 di lapangan SMAK St Albertus Malang, Sabtu (24/10/2015) 

SURYA.co.id |MALANG - Tari tradisional kreasi gantikan dance dalam Dempo Cup XI.

Gelaran untuk siswa SMP se-jatim ini rutin dilakukan untuk kompetisi pelajaran, seni dan olahraga.

Siswa kelas VII SMP Santo Yusup Kolose 2 Malang, Arianne (14) bersama ketujuh temannya juga ikut menghadirkan tari tradisional kreasi tahun ini.

Mereka latihan selama 2 minggu untuk membawakan tarian kreasi dari budaya Kalimantan.

“Tahun lalu kami juga ikut dance, tapi sekarang lebih seru karena lebih banyak kreasi unik dari budaya Kalimantan yang kami angkat,” terangnya saat ditemui usai pertunjukan di lapangan SMAK St Albertus Malang, Sabtu (24/10/2015).

Mereka tampil dengan busana bercorak khas Kalimantan, dengan hiasan kepala yang menyimbolkan burung endemik Kalimantan, burung Enggang.

Tampilan mereka juga dikreasikan dengan berbagai gerakan balet dan lincahnya tari khas Kalimantan.

Mereka juga menampilkan kebiasaan suku Dayak dalam memanggil memanggil hujan dan berbagi hasil panen. Hal ini terlihat dari gerakan di akhir tarian yang membagikan buah hasil panen pada juri.

Sedangkan siswa dari SMPK Yos Sudarso Blitar baru kali ini mengikuti Dempo Cup.

Edangkan tahun sebelumnya, mereka hanya bisa berpartisipasi untuk lomba teater.

“Tahun ini karena ada tari tradisionalnya, makanya kami ajak siswa kami. Yang penting anak-anak punya pengalaman dan bisa berpartisipasi,” ungkap guru pendamping SMPK Yos Sudarso Blitar, Maria Ribut.

Gelaran lomba tari tradisional kreasi ini semakin meriah dengan berbagai macam konsep yang dibawakan siswa-siswa SMP ini.

Bahkan ada siswa yang mmbawa kostum yang melambangkan Borobudur dengan asesoris kain sepanjang 7 meter yang digunakan dalam variasi tarian.

Sementara itu, panitia Dempo Cup sekaligus guru tari SMAK St Albertus Malang, Fransisca Dike, di menjelaskan, baru tahun ini Dempo cup mengadakan lomba tari tradisional kreasi. Nmaun lebih pada tari tradisional kreasi bukan klasik, sednagkan biasanya hanya ada lomba dance. “Biar anak jaman sekarang mengingat budayanya. Karena kita juga dituntut melestarikan budaya, bukan cuma belajar tarian modern saja,” terang Dike.

Peminat untuk mengikuti ketagori ini juga hampir sama dengan peminat pada lomba dance.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved