Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Blitar

Winarsih : Saya Kenal Dia Saat Holiday di Taman

"Siapa yang nggak berduka, wong ditinggalkan selama-lamanya. Meski kami baru menikah siri, namun ia sudah saya anggap seperti suami sendiri.

Tayang:
Penulis: Imam Taufiq | Editor: Yoni
Surya/Imam Taufiq
kenangan korban, Samawi Bin Basri (60), dengan Winarsih. 

SURYA.co.id |BLITAR - Kematian Samawi Bin Basri (60), pria berkewarganegaraan Singapura ini membuat mantan TKW, Ny Winarsih (36), warga Dusun Ringinrejo, Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, berduka.
Lebih-lebih, korban meninggal dunia setelah berada di rumahnya selama 14 hari.

"Siapa yang nggak berduka, wong ditinggalkan selama-lamanya. Meski kami baru menikah siri, namun ia sudah saya anggap seperti suami sendiri. Apalagi, ia ikut pulang saya ke rumah sini karena mau menikahi saya secara resmi," tutur Winarsih sambil berkali-kali menciumi foto korban, Rabu (21/10).

Di saat berduka, ibu dua anak dari pernikahan dengan mantan suaminya dulu itu bercerita, kalau kedatangan korban ke rumahnya, karena mengantarkan dirinya pulang.
Ia pulang bersama korban dari Singapura pada 7 Oktober 2015 kemarin.

Winarsih sendiri sudah sembilan tahun jadi TKW di Singapura. Ia pulang karena tak ingin kembali karena akan menikah dengan korban dan menetap bersama di Blitar.

"Hubungan kami itu sudah cukup lama. Kami kenal sejak tahun 2010 lalu atau saat itu saya baru empat tahun jadi TKW di Singapura," tuturnya.

Di Singapura, Winarsih bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT), sedangkan korban bekerja sebagai cleaning servis di sebuah Rumah Sakit di Singapura.

Awal perkenalannya, menurut Winarsih, saat dirinya sedang berlibur di sebuah taman, di tengah kota. Saat itu, ia berkenalan dengan korban, yang sedang jalan-jalan sendirian.

"Saat itu, kami sama-sama holiday, kemudian tanpa sengaja bertemu dan berkenalan," paparnya.

Rupanya perkenalan mereka berlanjut, hingga kian akrab.
Bahkan, sering keluar atau jalan-jalan bareng setiap holiday.

Akhirnya, perkenalan mereka itu dilanjutkan sampai ke pernikahan siri.

Soal identitas korban, apakah masih punya keluarga atau tidak, Winarsih mengaku tak paham betul.

"Sebab, kalau ngomong ke saya, ia belum pernah menikah. Namun, saya nggak sempat menelusuri lebih dalam meski saya sempat sangsi dengan pengakuannya itu. Yang penting dia cinta saya, dan mau menikahi saya," tuturnya.

Akhirnya, tahun 2012, mereka menikah siri di Singapura. Namun demikian, mereka tak tinggal serumah, hanya bertemu seminggu sekali saat sama-sama liburan akhir pekan.

"Saya itu berangkat ke Singapura tahun 2006 lalu," ujar janda dua anak, yang masing-masing kelas 1 SMK, dan kelas 5 SD.

Karena statusnya janda itu, Winarsih siap dinikahi korban.

Apalagi, ia sudah lama bekerja di Singapura, sehingga berniat tak kembali. Rupanya, korban juga setuju, sehingga akan menetap di Blitar, setelah menikahi Winarsih secara resmi.

"Suami saya (korban) kepingin tahu rumah saya. Sebab, ia akan menikahi saya, sekalian ingin kenal dengan keluarga saya, sehingga ikut saya pulang," paparnya.

Selama tinggal di rumahnya, menurut Winarsih, korban mengaku krasan. Namun rencananya, ia akan kembali sebentar, untuk mengurus surat buat keperluan kepindahan kewarganegaraan.

Baru setelah itu, mereka akan melangsungkan pernikahan. Namun, sebelum hal itu terealisasi, korban keburu meninggal dunia.

Tepat pukul 14.00 WIB, jenazah korban sudah diberangkat ke RSSA Kota Malang, dengan mobil ambulan milik RSUD Ngudi Waluyo, Wlingi.

Itu dikawal petugas Polsek Garum dan petugas Imigrasi, serta pihak keluarga Winarsih. Rencananya, jenazah korban akan diotopsi, untuk diketahui penyebab kematiannya.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved