Rabu, 8 April 2026

Kebakaran Gunung Lawu

2 Pendaki dari Jakarta Teridentifikasi, 1 Pendaki dari Blitar Perlu Tes DNA

#MAGETAN - Joko Prayitno warga Jln Asia Baru, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat dan Kartini dari Jl Pondok Kelapa Selatan Dalam, Jakarta Timur.

Penulis: Doni Prasetyo | Editor: Yuli
Surya/Doni Prasetyo
Plt Bupati Ngawi Sudjono menyerahkan surat kematian yang diterima dari disaster victim investigation (penyelidik korban bencana massal) Kedokteran Kesehatan (Dokkes) Polda Jatim, kepada keluarga korban, di gedung pertemuan RSUD dr Sayidiman, Magetan, Selasa (20/10/2015). 

SURYA.co.id | MAGETAN - Para dokter dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Jatim mengaku kesulitan mengidentifikasi satu jenazah yang dinyatakan Mr X karena kondisinya 100 persen rusak.

"Kami perlu data pembanding untuk mengidentifikasi jenazah yang kami nyatakan Mr X. Kalau ada keluarga yang yakin jenazah Mr X itu keluarganya, mohon kesediannya untuk tes DNA," kata Kepala Bidang Dokkes Polda Jatim Komisaris Besar (Kombes) dr Umar Shahab saat pers rilis di RSUD Magetan, Selasa (20/10/2015).

Permintaan test DNA (genetik) itu terkait desakan Sutikno, warga Jl Imam Bonjol 42, Kelurahan/Kecamatan Sanan Wetan, Kota Blitar.

Sutikno adalah paman Aris Munandar yang diduga ikut menjadi korban kebakaran di puncak Gunung Lawu, Minggu (20/10/2015). Keluarga yakin, Mr X itu merupakan jenazah Aris Munandar.

"Saya tahu perasaan keluarga, kami akan berusaha secepatnya. Karena itu mohon kesedian keluarga untuk test DNA, untuk bisa dicocokan dengan jenazah itu. Hal ini dilakukan karena kondisi jenazah sudah 100 persen rusak sehingga sulit dikenali," jelas dokter Umar Shahab.

Menurut dia, prosedur pemeriksaan jenazah Mr X dilakukan dengan jalan tes antemortem dan postmortem. Kedua tes itu sangat dibutuhkan bantuan seluas-luasnya dari keluarga korban.

"Antemortem itu diungkap dari data instansi yang pernah berhubungan semasa hidup. Misalnya, keluarga memberikan data fisik, salinan kartu kepala keluarga, menyebutkan umur, warna kulit, ciri fisik. Sedang postmortem, terkait data yang bisa didapat dari personal identification, seperti pemeriksaan dokumen dan atribut korban, misalnya kartu identitas (KTP, SIM, paspor, ijazah)," ujar Kombes Umar Shahab.

Kabid Dokkes Umar menjelaskan, DVI Polri sebagai lembaga identifikasi korban meninggal dunia akibat bencana massal, merupakan lembaga yang melayani dan membantu masyarakat.

Karena itu, DVI berusaha memberikan pelayanan secepatnya kepada keluarga korban tentang kepastian jenazah yang masih belum diketahui identitasnya.

"Saya jamin untuk pemeriksaan DNA ke Mabes Polri paling lama di bawah dua minggu. Tapi saya berusaha secepatnya, mudah-mudahan tidak sampai dua minggu. Percayalah, kami akan mempercepat, kami tahu perasaan keluarga," kata dokter Umar Shahab.

Terpisah, Kapolres Magetan AKBP Johanson Ronald Simamora memerintahkan jajarannya bergabung dengan Basarnas, BPBD dan organisasi pecinta alam Anak Gunung Lawu (AGL), menyisir rute pendakian dari dua pintu masuk pendakian Cemoro Kandang, Karanganyar, Jawa Tengah dan Cemorosewu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

"Saya meminta tim gabungan yang berjumlah 60 personil untuk menyisir dua rute pendakian, 35 personil lewat Cemorosewu dan 25 personil lewat Cemoro Kandang," kata Kapolres Johanson Ronald Simamora.

Perwira polisi ini pada hari pertama pencarian memimpin tim gabungan yang mengevakuasi tujuh pendaki lewat jalur pendakian Cemorosewu. 

"Terlanjur Mr X itu disebut Aris Munandar, ternyata yang punya nama pulang, kan risiko. Mengingat masih banyak pendaki di puncak terjebak api. Makanya tim DVI Polri minta tes DNA kepada keluarga Aris Munandar," kata AKBP Johanson Ronald Simamora.

Tim DVI Polri berhasil mengindentifikasi enam jenazah korban kebakaran hutan di puncak Gunung Lawu dari tujuh korban yang ditemukan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved