Kamis, 14 Mei 2026

Citizen Reporter

Suara Pilu di Balik Lawang Sewu

benarkah kisah mistis dan suara-suara anek acap terdengar dari Lawang Sewu? ini dia salah satu kisah pilu itu...

Tayang:
Editor: Tri Hatma Ningsih
citizen/rintahani johan pradana
Lawang Sewu 

 

 

 

 

Oleh : Rintahani Johan Pradana
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang

BERKUNJUNG ke Semarang, kurang lengkap bila belum menjejakkan kaki di bangunan yang satu ini. Karya arsitektur fenomenal yang menjadi tempat paling tepat untuk mendengar kembali suara dari masa lalu. Masyarakat menamai bangunan ini Lawang Sewu. Meski demikian, jumlah keseluruhan lubang pintu di bangunan karya Prof Dr JF Klinkhamer ini tak mencapai seribu buah. “Mungkin karena jumlah daun pintu dan jendelanya yang mencapai ribuan,” kata tour leader saat memberikan penjelasan terkait asal muasal nama tersebut.

Bangunan megah berdiri sejak 1907 ini pernah difungsikan sebagai kantor Nederlands Indische Spoorweg Maatschapij era pemerintahan Hindia Belanda. Di satu sisi di area depan Lawang sewu terdapat monumen dari bangkai lokomotif yang sudah tak terpakai.

Dengan tiket seharga sepuluh ribu rupiah dan menambah tiga puluh lima ribu rupiah untuk jasa tour leader, berkunjung ke Lawang Sewu menjadi aktivitas yang menyenangkan.

Secara keseluruhan ada empat bangunan di area ini. Bangunan pertama terdapat di bagian depan terdiri dari dua lantai. Pada lantai dua terdapat jalan yang menghubungkan bangunan pertama menuju bangunan ke dua. Bangunan ketiga dan empat sedikit memisah dari bangunan pertama dan kedua.

Suara dari masa silam tersebut dapat didengar kembali dari penuturan tour leader saat menjejakkan kaki di bangunan ke dua. Terdapat loteng dan bangunan bawah tanah.

Sebelum menuju bangunan bawah tanah, pengunjung diwajibkan memakai sepatu boot yang telah disediakan agar tidak kebasahan saat berjalan di bangunan bawah tanah yang masih tergenang air. Terdapat anak tangga kecil untuk menuju bangunan bawah tanah.

Kisah pilu itu terdengar kala tour leader mulai memberikan penjelasan mengenai peristiwa yang dulu pernah terjadi di bangunan di bawah tanah ini. Ruang-ruang sempit dan pengap yang dulunya berfungsi sebagai penjara bawah tanah.

“Di sini merupakan tempat menunggu dan melaksanakan eksekusi mati bagi bumi putera yang ditangkap Jepang,” kata tour leader. Jasad-jasad tersebut kemudian dibuang ke sungai yang ada persis di samping kompleks Lawang Sewu.

Tempat bersejarah ini juga bisa dikatakan sebagai penyebab pecahnya pertempuran lima hari di Semarang, antara tanggal 5-19 Oktober 1945. Pasca Belanda angkat kaki dari Nusantara, gedung ini digunakan Jepang sebagai markas militer mereka di Semarang. Jepang yang tak mau menyerahkan gedung dan senjata kepada rakyat, menyebabkan pecahnya pertempuran yang dimotori Angkatan Muda Kereta Api dan Badan Keamanan Rakyat dari pihak Republik, melawan Kempetai dan Kidobutai dari pihak Jepang. Tak terhitung berapa banyak korban yang tewas di wilayah ini. Hal itulah yang kemudian menyebabkan kesan sebagai bangunan angker melekat pada Lawang Sewu.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, tak jauh dari kompleks Gedung Lawang Sewu, berdiri tugu peringatan yang kemudian dikenal dengan Tugu Muda Semarang. Monumen peringatan pertempuran lima hari ini berdiri tepat di tengah persimpangan jalan dan menjadi salah satu ikon Kota Semarang.

Suara pilu dari balik Lawang Sewu telah mengingatkan kembali pada perjumpaan bangsa ini dengan kemerdekaan yang dipenuhi kisah pengorbanan dari para pejuang.

 


Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved