Sabtu, 11 April 2026

Peristiwa Lumajang

Pasukan Jaga Selok Awar-Awar, Warga Malah Merasa Tak Nyaman

#LUMAJANG - Tosan tidak hanya dijaga polisi, ia juga dijaga oleh awak dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Yuli

SURYA.co.id | LUMAJANG - Belum ada kepastian kabar penarikan pasukan penjagaan dari Desa Selok Awar-Awar Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Sejak peristiwa berdarah Sabtu, 26 September 2015, kini sudah berselang 20 hari.

Namun penjagaan oleh kepolisian dan Satpol PP masih dilakukan di desa tersebut. Pasukan dari Brimob Polda Jatim juga masih berjaga secara bergantian di Selok Awar-Awar.

Personel Brimob antara lain berjaga di rumah Tosan dan Balai Desa Selok Awar-Awar. Pasukan on call juga standby di Mapolres Lumajang.

Terkait kapan pasukan penjagaan itu ditarik, Asisten Deputi Keamanan Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan HAM, Brigjen Wakin Mardiwiyono belum bisa memastikan jadwalnya.

"Mungkin sebentar lagi, nanti menunggu analisa keamanan yang diputuskan Kapolda. Namun sekarang masih perlu dukungan keamanan dari pasukan jadi belum ditarik," ujar Wakin kepada sejumlah wartawan di Desa Selok Awar-Awar, Kamis (15/10/2015).

Wakin bersama rekannya juga dari Kemenkopolhukam, Brigjen Yanto Tarah, berkunjung ke Selok Awar-Awar untuk bertemu warga desa setempat. Puluhan warga diundang ke balai desa.

Dalam kesempatan itu, Wakin meminta warga setempat ikut menjaga kondusifitas Desa Selok Awar-Awar. Wakin mengemukakan ada beberapa kelompok di desa itu. Kelompok itu adalah kelompok keluarga korban, keluarga pelaku yang kini ditahan di Mapolda Jatim, kelompok penambang tradisional, kelompok penambang legal, dan kelompok penambang ilegal.

"Jangan sampai friksi ini menjadi konflik. Kami datang untuk melihat dan potensi konflik tidak pecah. Kami minta semua pihak menahan diri. Dan untuk proses hukum percayakan kepada penegak hukum baik POlres maupun Polda," imbuh Wakin.

Sementara itu, beberapa warga mengaku tidak nyaman dengan kehadiran personel kepolisian di Desa Selok Awar-Awar, seperti diungkapkan Eko.

"Kami malah tidak nyaman karena banyak polisi pakaian hitam-hitam bawa senapan," keluh Eko. Polisi berpakaian hitam-hitam itu mengacu kepada personel Brimob yang memang disiagakan di desa tersebut.

Mengenai hal itu, Wakin meminta warga setempat bersabar sampai Kapolda Jatim Irjen Anton Setiadji memutuskan untuk menarik pasukan penjagaan dari Selok Awar-Awar.

Tosan, korban penganiayaan kelompok pro tambang juga mengaku tidak nyaman karena rumahnya dijaga 24 jam oleh polisi. "Saya juga tidak enak karena dijaga terus, tidak bisa pelukan sama istri," ungkapnya.

Dan kini Tosan tidak hanya dijaga polisi, ia juga dijaga oleh awak dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Sumber:
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved