Berita Blitar

Turun Sawah, Mentan Tanpa Sepatu

"Saya ini anaknya petani, sejak kecil atau selama 20 tahun sudah bergelut dengan lumpur sawah seperti ini. Jangan heran bapak-bapak," ujarnya,

Penulis: Imam Taufiq | Editor: Yoni
Surya/Imam Taufiq
Mentan, Amran, menjalankan mesin penanam padi di sela-sela panen raya di Kabupaten Blitar, Selasa (29/9). 

SURYA.co.id |BLITAR - Menteri Pertanian (Mentan), Dr. Ir. H. A. Amran Sulaiman, MP, cukup merakyat. Saat melakukan panen raya padi, di Desa Siraman, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Selasa (29/9) siang, ia dengan cekatan turun ke sawah, yang berlumpur.

Bahkan, ia tak mau memakai sepatu boot meski sudah disiapkan panitia. Akibatnya, para pejabat yang terlanjur memakai sepatu boot itu akhirnya malu dan langsung melepasnya. "Ini sawah, bukan kantor, kok pakai sepatu," tuturnya sambil menjebur ke sawah.

Di sawah berlumpur itu, ia kembali membuat petani dan undangan terbelalak, heran. Sebab, ia dengan lancar menjalankan mesin penanam padi (transplanter).

Alhasil, padi yang ditanam dengan mesin oleh Amran itu cukup teratur. Namun demikian, celana hitam yang dikenakannya itu penuh lumpur.

Meski begitu, ia tak canggung dan tetap memakainya sampai acara selesai.

"Saya ini anaknya petani, sejak kecil atau selama 20 tahun sudah bergelut dengan lumpur sawah seperti ini. Jangan heran bapak-bapak," ujarnya, yang membuat ketawa para petani yang melihatnya di pinggir sawah.

Melihat Amran cukup piawai menjalankan mesin penanam padi, Bupati Herry Nogroho, ikut mencobanya. Namun, ia terlihat belum lancar karena mesin penanam padi itu jalannya sering berbelok-belok sehingga padi yang ditanam juga tak teratur.

"Saya belum pernah menjalankannya dan baru kali ini, sehingga sering belok-belok," papar Herry.

Rupanya, Amran juga pandai mencairkan suasana. Di hadapan petani dan undangan yang terdiri dari para pejabat lokal dan Pemprov Jatim, ia berkelakar.

Katanya, kalau tadi tak disiapkan mesin penanam padi oleh panitia, dirinya siap menantang dan bertaruh dengan Bupati Herry. Taruhannya adalah menanam padi dengan tangan, bukan dengan mesin.

"Saya ini anaknya orang desa dan sejak kecil sudah biasa jadi tukang tandur (menanam) padi. Saya tantang pak bupati, dan saya ajak taruhan dengan saya. Kalau sampai menang menandur padi pakai tangan, akan saya kasih bantuan mesin penanam padi sebanyak 100 unit," ujarnya yang lagi-lagi memancing ketawa para undangan, termasuk Herry Noegroho, yang ada di sampingnya.

Namun, kalau soal mencalonkan diri di Kabupaten Blitar, ia mengaku tak berani. Sebab, cabup di Kabupaten Blitar itu, tak ada lawannya yang berani, menyainginya.

Di Desa Siraman itu, Amran melakukan panen raya padi seluas 1 hektare (Ha). Itu menghasilkan panen gabah sekitar 7 ton. Yakni, padi jenis Hibrida, dengan musim tanam selama dua bulan, 25 hari.

Namun, jika pakai benih padi lain, mungkin lebih lama.

"Kenapa saya memanen padi di Blitar? Itu karena se-Indonesia, yang paling banyak mendapat bantuan pertanian dari pusat adalah Jawa Timur. Yakni, Rp 2,4 Triliun tahun ini. Di Jatim itu, wilayah pertanian yang terluas itu, di Blitar sehingga tak heran mendapat bantuan Rp 25 miliar untuk tahun ini saja," papar Amran.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved