Muktamar Ke 33 NU Jombang
Maju Calon Ketum PBNU, KH Idrus Ramli Keluhkan Kondisi Muktamar
"Seharusnya, event yang berlangsung sekali dalam lima tahun ini menjadi ajang silaturahmi."
Penulis: Benni Indo | Editor: Parmin
SURYA.co.id | JOMBANG - Dewan Pakar Aswaja Center NU, KH Idrus Ramli yang mencalonkan menjadi Ketum PBNU 2015-2020 mengeluhkan kondisi Muktamar ke-33 NU di Jombang.
Ia turut prihatin atas kekisruhan yang sempat terjadi beberapa waktu lalu di arena sidang pleno, Alun-alun Jombang.
"Seharusnya, event yang berlangsung sekali dalam lima tahun ini menjadi ajang silaturahmi. Saya dan beberapa kader lainnya merasa prihatin dengan kejadian yang kurang menyenangkan," tuturnya, Rabu (5/8/2015).
Ia juga menyerukan agar pemilihan Rais Aam yang nakal berlangsung Rabu pukul 20.00 WIB berlangsung dengan mengedepankan ketulusan hati nurani. Isu-isu terkait kepentingan politik dan money politics diharapkan tidak muncul dalam pemilihan.
Sedang KH Taqiuddin Mansur, Rais Syuriah PWNU Nusa Tenggara Barat (NTB) menyikapi kejadian selama Muktamar ke-33 NU di Jombang adalah fenomena lumrah. Saya pikir NU memiliki tradisi menyelesaikan dinamika ketika muktamar.
"Masalah krusial adalah Ahwa. Sebetulnya sistem itu pernah dilakukan di Situbondo. Bagi NTB itu hal yang biasa. Sudah waktunya menerima Ahwa sebagai metode yang tepat untuk kebaikan NU," tegasnya.
Sistem Ahwa menjadi pilihan untuk menentukan Rais Aam PBNU periode 2015-2020. Sistem itu hasil voting di mana 252 suara menerima sistem Ahwa dan 235 suara menolak. Sedang abstain 9 orang.