Muktamar Ke 33 NU Jombang
Kubu Hasyim - Gus Solah Klaim Didukung 60 Persen Muktamirin
“Mereka berasal dari 29 PWNU dan 190-an PCNU dari seluruh Indonesia,” kata H Masud Adnan, orang dekat Gus Solah, Jumat (31/7/2015) sore.
Penulis: Sutono | Editor: Parmin
SURYA.co.id | JOMBANG - Paralel dengan pertarungan kubu pro AHWA versus non-AHWA, persaingan bakal calon Rois Aam Syuriah dan Ketua Umum Tanfidziyah juga cukup kian seru.
Kubu KH Hasyim Muzadi-KH Solahudin Wahid (Gus Solah) sebagai bakal calon Rais Syuriah dan Ketua Umum PBNU mengklaim didukung lebih dari 60 persen muktamirin.
“Mereka berasal dari 29 PWNU dan 190-an PCNU dari seluruh Indonesia,” kata H Masud Adnan, orang dekat Gus Solah, saat dihubungi Surya.co.id, Jumat (31/7/2015) sore.
Menurut dia, mereka ini sangat solid dan berkumpul di Pondok Pesantren Tebuireng, sejak Kamis (30/7/2015).
Dengan kekuatan minimal 60 persen total suara muktamirin tersebut, Masud optimistis bakal memenangkan pertarungan pemilihan Rais Syuriah dan Tanfidziyah.
“Kalau pemilihan berjalan fair, tidak ada rekayasa, misalnya, memaksakan diterapkannya sistem AHWA, KH Hasyim-Gus Solah jelas akan unggul,” kata Masud Adnan.
Itu pula sebab, kubu Gus Solah yang memang identik dengan kubu penolak penerapan sistem AHWA, terus berjuang untuk menggagalkan diterapkannya sistem AHWA.
Sistem AHWA, sebagaimana disebutkan mantan Ketua PBNU Andi Jamaro Dulung, dinilai terlalu dipaksakan jika dipakai untuk memilih Rois Aam Syuriah.
“Terdapat sejumlah kecacatan dan pemaksaan jika mekanisme pemilihan pengurus NU melalui sistem AHWA,” kata Andi yang juga pendukung Gus Solah.
Andi menjelaskan, hingga saat ini sedikitnya sekitar 27 PWNU membuat dan mengirimkan surat tertulis penolakan AHWA terhadap PBNU. Sehingga jika sistem AHWA dipaksakan maka muktamar akan menemui jalan buntu alias ‘deadlock’.
Ketua Umum KH Said Agil Siraj menegaskan muktamar tetap akan menerapkan sistem AHWA karena merupakan amanat dari Munas PBNU dan juga pleno PBNU.
Disinggung soal bagaimana jika ada penolakan AHWA dari muktamirin, KH Said Agil menjawab, seharusnya pertanyaan itu tidak ditanyakan kepada dirinya.
“Seharusnya ditanyakan kepada syuriah,” kilah KH Said, saat jumpa pers, Jumat (31/7/2015).
Terkait jumlah suara muktamirin yang mendukung dirinya sebagai calon Ketua Umum Tanfidziyah, KH Said tak sempat menjawab, karena buru-buru ditarik sejumlah orang yang diperkirakan pengawal KH Said.
“Waktunya sudah habis, sudah magrib,” kata salah satu pengawal.