Berita Luar Negeri

Ternyata Mitsubishi Pernah Memperbudak Tentara AS

Atas agresi Jepang selama Perang Dunia II, perusahaan-perusahaan swasta Jepang selama ini tidak terlalu menampakkan penyesalan.

Penulis: Wahjoe Harjanto | Editor: Wahjoe Harjanto

SURYA.CO.ID | LOS ANGELES - Perusahaan Konstruksi Mitsubishi Materials Corp menjadi perusahaan besar Jepang pertama yang meminta maaf karena telah menggunakan tentara Amerika yang menjadi tawanan sebagai buruh selama Perang Dunia II.

"Hari ini kami mohon maaf dengan penuh penyesalan untuk peristiwa tragis pada masa lalu kita," kata Eksekutif Senior Mitsubishi Materials Hikaru Kimura di Museum Toleransi Simon Wiesenthal Center di Los Angeles, Minggu (19/7/2015), waktu setempat.

Hikaru Kimura berdiri diapit oleh seorang buruh paksa di tambang tembaga Yukio Okamoto dan penasihat khusus Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, bersama dengan gambar bendera Amerika dan Jepang.

Secara keseluruhan, sekitar 12.000 tahanan perang Amerika dimasukkan ke dalam program kerja paksa oleh pemerintah dan perusahaan swasta Jepang untuk mengisi kekurangan tenaga kerja selama masa perang.

Dari 12.000 tentara Amerika itu, lebih dari 1.100 di antaranya meninggal, kata Rabbi Abraham Cooper, dekan di Simon Wiesenthal Center.

Menurut pusat penelitian nirlaba Asia Policy Point, enam kamp tawanan perang di Jepang diduga terkait dengan konglomerat Mitsubishi selama perang dan mereka menahanan 2.041 tawanan perang, dimana lebih dari 1.000 di antaranya adalah warga Amerika.

Pendahulu perusahaan Mitsubishi Materials Corp menjalankan empat kamp kerja paksa yang dalam masa pembebasan pada 1945 menahan sekitar 876 tawanan perang Amerika. Sebanyak 27 orang Amerika tewas dalam kamp-kamp kerja paksa tersebut, kata Asia Policy Point.

Walaupun Perdana Menteri Jepang sebelumnya telah meminta maaf atas agresi Jepang selama Perang Dunia II, perusahaan-perusahaan swasta Jepang selama ini tidak terlalu menampakkan penyesalan.

Para hadirin yang datang dalam acara tersebut adalah para korban kerja paksa yang selamat dengan anggota keluarganya. "Ini adalah hari yang mulia. Selama 70 tahun kami menginginkan hal ini," kata James Murphy, veteran berusia 94 tahun yang selamat dari kerja paksa di Tambang Tembaga Osarizawa milik Mitsubishi Mining dan "Bataan Death March" yang terkenal di Filipina.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok.
LIKE Facebook Page www.facebook.com/SURYAonline
FOLLOW www.twitter.com/portalSURYA

Sumber:
Tags
Mitsubishi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved