Pendidikan di Surabaya
Surabaya Punya 13 Sekolah Terbuka, Syaratnya Tidak Harus Miskin
“Ini merupakan layanan pendidikan. Jadi kami memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk anak yang memang membutuhkan. Seperti yang tidak mampu."
Penulis: Sany Eka Putri | Editor: Yuli
SURYA.co.id | SURABAYA - Sekolah terbuka yang merupakan program dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tersebar di berbagai daerah, termasuk di Surabaya.
Ada 13 sekolah SMPN dan SMAN yang mendapat amanah untuk menjalankan program sekolah terbuka ini. Yakni 12 sekolah untuk SMPN (SMPN 8, SMPN 10, SMPN 11, SMPN 12, SMPN 14, SMPN 15, SMPN 16, SMPN 18, SMPN 19, SMPN 21, SMPN 25, SMPN 34) dan 1 sekolah untuk SMAN (SMAN 19).
Sekjen Kemendikbud, Didik Suhardi, mengatakan program ini untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak yang wajib belajar sembilan tahun.
“Ini merupakan layanan pendidikan. Jadi kami memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk anak yang memang membutuhkan. Seperti yang tidak mampu,” terangnya ketika dihubungi Surya, Rabu (8/7/2015).
Menurut dia, sekolah terbuka ini merupakan alternatif sekolah formal yang memberikan kemudahan mendapatkan pendidikan yang layak.
Biaya sekolah terbuka yang dimulai sejak tahun 1979 untuk SMPN dan tahun 2013 untuk SMAN ini ditanggung oleh APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) serta Bopda untuk masing daerah.
“Tidak ada biaya. Mereka sama-sama mendapatkan layanan di sekolah seperti siswa regular,” tambah Didik.
Selain itu, untuk sistem pembelajarannya yang membedakan dari sekolah regular biasa. Yakni jika sekolah regular dimulai dari pagi hingga siang, sekolah terbuka dimulai setelah sekolah regular pulang.
Seperti di SMPN 8 Surabaya yang sudah ada sekolah terbuka sejak tahun 1997. Wakil Kepala SMPN 8, Didik Martono, mengataka bahwa siswa terbuka ini hanya mengikuti pelajaran setiap hari Senin hingga Jumat pada pukul 14.00 hingga pukul 17.00.
“Masuknya setelah yang reguler pulang, baru siswa terbuka masuk kelas,” terangnya.
Di SMPN 8 ini, setiap angkatan ada dua kelas untuk siswa sekolah terbuka. Di mana satu kelas dibatasi hanya 20 orang saja. Lalu, untuk sistem pembelajarannya di SMPN 8 ini sama dengan sekolah reguler biasa. Mendapatkan pelajaran yang sama, karena mereka juga wajib mengikuti Unas (ujian nasional) yang diselenggarakan oleh negara.
“Mereka juga wajib ikut Unas, dan nanti mereka juga mendapatkan ijazah yang sama seperti sekolah reguler. Hanya saja, nanti di ijazahnya ada keterangan sekolah terbuka,” terangnya.
Dilihat dari sisi tenaga ajarnya juga bersedia membantu siswa yang memang sekolah di sekolah terbuka ini. “Untuk guru-guru juga harus bersedia mengajar karena pelajarannya sama. Kami juga tidak membeda-bedakan mana siswa yang sekolah terbuka dengan siswa biasa,” imbuhnya.
Namun sistem pembelajaran untuk sekolah terbuka SMPN dengan SMAN berbeda. Seperti di SMAN 19 Surabaya yang merupakan sekolah terbuka sejak tahun 2002 dan juga sekolah kawasan ini.
Guru Bina sekolah terbuka di SMAN 19, Suheri Jyani, mengatakan sekolah terbuka di SMAN 19 ini menggunakan sistem pembelajaran PJJ (pembelajaran jarak jauh) dan tatap muka. Dengan prosentase PJJ 80% dan tatap muka 20%.