Temuan Mahasiswa Universitas Airlangga
Limbah Bulu Ayam jadi Pengolah Limbah Cair
selain jadi kok badminton dan kemoceng, kini limbah bulu ayam naik kelas menjadi bahan pengolah limbah cair.... heibat bukan...
Ditulis oleh Indah Purnamasari
Mahasiswi Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga Surabaya
BULU ayam, limbah yang dihasilkan industri rumah potong ayam kini berpeluang tidak lagi terbuang percuma atau sekadar dijadikan kemoceng atau kok bulu tangkis.
Lewat tangan lima mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya yang berhasil menyulap bulu ayam dijadikan koagulan untuk mengurangi kadar kandungan bahan organik pada limbah cair rumah potong ayam.
Bermula dari keinginan untuk menemukan alternatif bahan pengolah limbah yang murah dengan memanfaatkan bahan limbah juga tetapi tetap efisien, dipilih bulu ayam sebagai bahan penelitian. Pemilihan bulu ayam bukan tak berdasar. Landasan dasar yang digunakan yaitu kesamaan struktur yang dimiliki oleh keratin yang terkandung dalam bulu ayam dengan kitin yang terkandung pada kitosan.
Kitosan sendiri merupakan bahan yang telah terbukti dalam berbagai penelitian dapat menurunkan kandungan bahan pencemar organik dalam air. Landasan dasar ini diperoleh dari hasil telaah berbagai jurnal.
Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), lima mahasiswa yang berasal dari Fakultas Sains dan Teknologi ini memulai penelitian dengan menjadikan bulu ayam menjadi serbuk koagulan. Serbuk yang telah menjadi koagulan siap pakai kemudian dibubuhkan dengan berbagai variasi dosis pada limbah yang berasal dari rumah potong ayam yang sama dengan tempat pengambilan bulu ayam yang digunakan sebagai bahan koagulan.
Terdapat beberapa kendala sebelum akhirnya kelompok yang diketuai Indah Purnamasari ini mendapat metode yang tepat untuk memproses bulu ayam menjadi koagulan siap pakai. Dari hasil analisis pada parameter kandungan organik pada limbah, dihasilkan koagulan bulu ayam ini dapat menurunkan kadar bahan organik tersuspensi hingga 90,7 persen.
Namun, masih belum efisien dalam menurunkan kebutuhan oksigen kimiawi. Dosis optimal yang diperoleh sebanyak 25 mg untuk setiap satu liter air limbah.
Tim ini masih akan mengembangkan riset untuk meningkatkan efisiensi koagulan dalam menurunkan berbagai kadar polutan dalam limbah. Selain itu mereka berharap karya ini dapat dipublikasikan di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2015 yang akan berlangsung di Sulawesi Tenggara.
Lebih jauh, nantinya koagulan dapat diproduksi dan diimplementasikan pada pengolahan limbah cair industri rumah potong ayam, sehingga produk ini dapat mendukung konsep produksi bersih dalam industri sehingga konsep green industry dapat terwujud.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/bulu-ayam_20150704_160404.jpg)