Resto Alas
Di Kota Ini Daun Kelor Pantang Dimakan. Ini Alasannya
Di daerah tertentu daun kelor pantang dimakan karena digunakan untuk memandikan orang meninggal. Namun, daun kelor punya kandungan protein tinggi.
Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Achmad Pramudito
surya/pramudito
Juru masak Resto Alas menyiapkan wedang secang disaksikan pengunjung restoran di area PPLH Seloliman, Trawas, Mojokerto.
SURYA.co.id | SURABAYA - Resto Alas di PPLH Seloliman, Trawas, Mojokerto ini menyajikan aneka menu sehat. Semua makanan di resto itu dimasak dengan bahan-bahan yang diperoleh dari kebun di kawasan seluas 4 hektar itu.
Untuk camilan ada martabak Daun Racunan, juga ada Wedang Secang. Menu spesial lain yang tersaji di rumah makan yang menonjolkan suasana alam terbuka ini adalah sayur Daun Kelor. Menu daun kelor ini sangat dianjurkan bagi anak-anak dan balita karena mengandung potasium tiga kali lipat daripada pisang. Selain itu, unsur kalsiumnya empat kali lebih banyak dari susu, vitamin C-nya tujuh kali lipat dibanding jeruk, dan vitamin A daun kelor empat kali lebih banyak daripada wortel. “Daun kelor juga kandungan proteinnya dua kali daripada susu,” ujar Thoyib. Khusus untuk pemanfaatan daun kelor ini, Thoyib memberi catatan khusus. “Masyarakat Sidoarjo, Surabaya, dan Gresik umumnya tak mau makan hasil olahan daun kelor ini, karena tumbuhan ini biasa digunakan untuk memandikan orang meninggal,” urainya. Ditambahkan pula, kandungan zat besi yang tinggi pada daun kelor diyakini bisa mengeluarkan ‘susuk’ pada tubuh orang yang sudah meninggal. “Ini masalah kepercayaan saja,” tuturnya singkat. Ditekankan H Suroso, pengelola PPLH Seloliman, tanaman yang jadi bahan racikan di Resto Alas tertanam di area PPLH yang luasnya sekitar empat hektar. Menu sehat tersebut bisa setiap saat dipesan di Resto Alas yang buka setiap hari dari Senin-Minggu. “Namun, jika mau jadi masakan rumahan juga tidak sulit karena bahannya juga gampang diperoleh,” katanya.KOMENTAR
