Ramadan 2015
Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat, Kokoh Spiritual Mapan Intelektual
#SIDOARJO - KH Agoes Ali Mashuri mendirikan Ponpes Progresif Bumi Shalawat di Sidoarjo. Setiap kelas berbeda sesuai karakter dan minat santri.
Penulis: Miftah Faridl | Editor: Yuli
SURYA.co.id | SURABAYA - Kompetensi pendidikan di Indonesia memang kuat tetapi lemah di sisi agama, begitu pula sebaliknya.
Berangkat dari realita itu, KH Agoes Ali Mashuri mendirikan Ponpes Progresif Bumi Shalawat di Sidoarjo. Setiap kelas berbeda sesuai karakter dan minat santri.
Judul tulisan ini adalah tagline dari Pondok Pesantren (Ponpes) Progresif Bumi Shalawat, Lebo, Sidoarjo, asuhan KH Agoes Ali Mashuri.
Kalimat yang terdiri dari dua frasa itu disusun sendiri oleh sang kiai yang akrab dipanggil Gus Ali, tokoh sentral dalam pendirian dan perkembangan ponpes modern berbasis agama dan sains itu.
Ya, ponpes ini dikemas modern meski kental berbalut religi. Gus Ali mengatakan, dia sadar ada kekosongan dalam sistem pendidikan tanah air. Pria yang masih enerjik di usia yang sepuh ini melihat, antara kompetensi pendidikan dan sisi agama di Indonesia belum seimbang.
“Saya ingin mengisi ruang kosong antara spiritual dan intelektual. Keduanya harus seimbang,” tegas Gus Ali ketika ditemui Surya di kediamannya yang menjadi satu kompleks dengan pondok. Gagasan itu dituangkan dalam bentuk kurikulum, sistem, dan metode pembelajaran.

Ponpes modern di Jalan Kyai Dasuki, Lebo, ini baru berdiri sekitar lima tahun lalu. Lahan kompleks pondok tidak terlalu luas. Gus Ali sengaja mengatur demikian sebab bangunan yang besar tidak menjamin baiknya kualitas pondok dan santrinya.
Apalagi, Bumi Shalawat menerapkan ruang kelas kecil. Satu ruang kelas tingkat SMP dan SMA di pondok itu hanya diisi 20 santri, tidak seperti sekolah pada umumnya, satu kelas bisa diisi 50 orang.
“Kelas besar membuat murid tidak nyaman dan pengajarnya tidak fokus mengenali karakter masing-masing anak didiknya,” terang Gus Ali.
Metode pendidikan di Bumi Shalawat mengadopsi dua tipikal pendidikan yang berlatar belakang berbeda. Ponpes memiliki corak Jawa, namun metodologinya memakai gaya negara-negara di Eropa. Gus Ali merujuk ke Jerman, Inggris dan Finlandia setelah melakukan studi langsung ke tiga negara itu.
Setiap tahun ajaran baru, sekolah ini hanya menerima sekitar 200 santri. Tidak banyak untuk ukuran ponpes yang namanya kesohor, tetapi itulah Gus Ali. Ia sengaja membatasi jumlah santri karena ingin fokus urusan kualitas.
Saat seleksi awal penerimaan, ia turun tangan sendiri didampingi seorang psikolog. Ia melihat satu per satu calon santri. Dari tahap itu, Gus Ali bisa mengerti tipikal dan minat calon santrinya.
“Sejak awal saya sudah menilai, anak itu berbakat di bidang apa. Misal, kuat di matematika, bahasa, atau seni. Jadi, ada 10 hingga 12 kelas untuk satu angkatan yang karakternya berbeda tergantung minat para santri,” ungkapnya.
Setidaknya, ia tidak perlu repot mencari siswa mana yang akan dikirim mewakili Bumi Shalawat untuk lomba matematika atau bahasa. Sudah ada kelas khusus di bidang itu dan santri pun siap berkompetisi. Kelas itu sengaja dibuat begitu untuk menyiapkan santri berkembang sesuai minat dan karakternya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/rogresif-bumi-shalawat-lebo-sidoarjo-asuhan-kh-agoes-ali-mashuri_20150624_190007.jpg)