Rabu, 8 April 2026

Tata Kota Surabaya

Frontage Road Sisi Barat Jalan A Yani Surabaya Terkendala Puluhan Persil

#SURABAYA - Pembangunan frontage road sisi barat Jl Ahmad Yani masih terganjal oleh 20an persil yang belum terbayar dan belum terhibahkan.

Penulis: Magdalena Fransilia | Editor: Yuli

SURYA.co.id | SURABAYA - Rencana segera merampungkan proyek pembangunan frontage road sisi barat Jl Ahmad Yani, Surabnaya masih terkendala.

Penyebabnya, masih terganjal oleh 20an persil yang belum terbayar dan belum terhibahkan. Salah satu upaya memecah padatnya kemacetan di Surabaya pun bisa lebih lama lagi. 

Kepala Bidang Perancangan dan Pemanfaatan Dinas Bina Marga dan Pematusan (DBMP) Kota Surabaya Ganjar Siswo Pramono mengatakan hal ini dikarenakan ada perubahan peraturan UU 2/2012 mengenai appraisel yang harus dibayarkan.

“Semua sudah, tinggal proses pembayaran tapi harus ikut aturan baru,” ungkapnya dalam Media Gathering di Gedung Pemkot Surabaya, Kamis (4/6/15/2015).

Dalam aturan itu, kini appraisel bukan hanya berupa tanah saja, tetapi juga bangunan dan tanaman. Hal ini lantas membuat appraisel harus dihitung ulang. Beberapa lahan sudah dilakukan pembebasan, seprti Cipaganti, Primarasa, Kejaksaan, serta lahan milik pemerintah.

“Untuk Pusvetma (aset negara) persetujuan sudah dapat dari tandatangani Presiden sebab nilainya diatas Rp 10 miliar. lahan milik Polda seperti Ubhara, Sekolah, Rumah Sakit, Asrama juga sudah disetujui, tinggal proses hibahnya saja yang masih berjalan,” tambah Ganjar.

Sengketa Hotel Cemara juga menjadi satu di antara penyebabnya. Sesungguhnya pemilik persil sudah bersedia, namun terkendala konflik internal yakni tidak adanya sertifikat, sehingga saat ini uang appraisel yang disediakan masih dititipkan ke pengadilan.

Proyek yang menelan dana hingga Rp 50 miliar itu masih separuh jalan. “Dari total sekitar 4 kilometer, kini pengerjaannya masih kurang 2 kilometer lagi. Lebarnya sekitar 19-20an meter, itu sudah termasuk pembangunan pedestrian dan saluran samping. Targetnya selesai November 2015” kata Ganjar.

Proyek ini diawali dari pembongkaran jalan dari Cito ke sisi utara BNI, Mandiri, Telkom, dan Cipaganti. Kemudian dilanjutkan ke Dinas Infokom, Auto 2000, BCA, Dinas Peternakan, depan Apartemen de Papilio, Pertanian, Polda Jatim, hingga Asrama Polri.

Selain membangun frontage road, Jalur Lingkar Luar Timur (JLLT) dan Jalur Lingkar Luar Barat (JLLB), DBMP juga berencana membuat jalan-jalan tembusan untuk membantu mengatasi kepadatan lalu lintas. “Kepadatan jalur utama akan dipecah dengan akses baru, mengoptimalkan jalan kampung dan pemakaian jalan perumahan sebagai jalan tembusan,” papar Ganjar.

Hal ini guna mendukung kelancaran investasi di Surabaya melalui pembenahan infrastruktur jalan yang memadahi. Untuk itu diharapkan kelancaran transportasi akan memperkuat distrubusi barang dan jasa.

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Pelayanan dan Penanaman Modal (BKPPM) Kota Surabaya Eko Agus Supiadi mengatakan banyak faktor yang berpengaruh terhadap investasi sebuah kota.

“Selain keamanan, bebas banjir, juga kondisi infrastruktur jalan. Surabaya sudah cukup bagus mengatasi itu semua, sehingga banyak investor yang tertarik menanamkan modal,” ungkap Eko dalam Media Gathering bertema “Kesiapan Infrastruktur Jalan di Surabaya dalam Mendongkrak Investasi” di ruang ATCS Lantai VI kantor Pemkot Surabaya, Kamis (4/6/2015).

Surabaya dikatakan masih menjanjikan dari segi investasi, sebab kini beberapa jalan baru dan rekayasa jalan lainnya sudah mulai dilakukan.

Eko menambahkan padatnya arus kendaraan di Surabaya memang memicu kemacetan beberapa ruas jalan, itu artinya banyak orang lalu lalang karena berbagai kepentingan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved