Kamis, 14 Mei 2026

Menenun Bahasa Madura, Menyelamatkan Bahasa Bunda

hanya tinggal menunggu waktu bahasa Madura akan hilang bila kaum mudanya saja malu berbahasa ibu...

Tayang:
Editor: Tri Hatma Ningsih
wordlovers
ilustrasi 

Oleh : Fendi Chovi
Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura
fb.com/fendi.chovi

BAHASA Madura tak sekadar diucapkan sebagai bahasa percakapan sehari-hari, tetapi di dalamnya ada nilai filosofis yang menggambarkan karakter para penuturnya. Demikian ujaran Nurwahyu Alamsyah saat membuka diskusi lesehan obrolan tentang Madura bersama nak-kanak komunitas Blogger Plat-M, Madura, Minggu (25/5/2015) lewat tema Menenun Bahasa Madura. 

 

Adrian Pawitra, penyusun Kamus Lengkap Bahasa Madura-Indonesia sekaligus pencipta lagu Kacong Tor Jhebbing, ikut hadir menegaskan nilai filosofis dan keindahan bahasa Madura. Didampingi Firdaus Sholihin, pakar IT sekaligus penggagas Madura.web.id situs aplikasi digital kamus bahasa Madura-Indonesia, peserta menikmati sensasi materi seputar penggunaan digitalisasi bahasa Madura dan pentingnya mencintai bahasa Madura.

 

Para peserta pun antusias dan aktif bertanya seputar bahasa Madura, termasuk rasa heran akan perbedaan dialek Madura di setiap kabupaten.

 

Adrian mengaskan, bahwa sudah seharusnya anak-anak Madura merasa lebih bangga akan bahasa Madura sebab bahasa ini memiliki segudang makna filosofis dan tingkatan-tingkatan bahasa yang mencerminkan pribadi si penutur bahasa Madura.

 

Sebaliknya, lanjut Adrian, jika para penutur lokal sendiri enggan berbahasa Madura, bahasa ini akan mengalami kepunahan di masa mendatang. “Kalau bukan anak-anak Madura sendiri, siapa lagi yang akan mengangkat derajat bahasa Madura?" gugat Adrian.

 

Sembilan tahun lamanya menyusun kamus tersebut, Adrian berharap bisa berkontribusi untuk Madura, khususnya generasi muda Madura memanfaatkan kamus tersebut sebagai pijakan bagaimana menulis bahasa Madura sesuai ejaan yang benar.

 

Terlebih, bahasa Madura merupakan salah satu dari tiga bahasa lokal yang paling sering digunakan di Indonesia setelah bahasa Jawa dan Sunda.

 

Dengan adanya kamus Madura-Indonesia versi digital yang digagas Firdaus Sholihin merujuk pada kamus karya Adrian Pawitra tersebut, semangat mengangkat bahasa Madura dalam percakapan sehari-hari harus membumi di kalangan anak muda Madura sendiri.

 

Terlebih, saat ini masyarakat Madura sudah melek IT sehingga upaya untuk ikut serta menikmati digitalisasi bahasa Madura pun kian mudah diakses secara luas.  

 


Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved