Selasa, 14 April 2026

Menyusuri Museum di Surabaya

Sejak Masih Sekolah Sampai Punya Anak Isi Museum Tetap Begini

Museum 10 Nopember bikin pameran bersama agar bisa menarik perhatian masyarakat. Agenda berlangsung hingga akhir tahun 2015.

Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Achmad Pramudito
surya/pramudito
Museum Tugu Pahlawan ramai dikunjungi pada saat libur sekolah. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Selain Museum Surabaya, warga Surabaya sudah lebih dulu menikmati museum di Tugu Pahlawan. Namun, sebagaimana museum-museum lain, Museum Sepuluh November ini praktis tak ada inovasi. Hanya mengandalkan benda-benda bersejarah terkait perjuangan kemerdekaan untuk menjaring pengunjung.

Monumen yang didirikan tahun 1951 ini menyimpan bukti-bukti sejarah pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Diantaranya yaitu, tulisan tangan Mayjen Soengkono berupa naskah ‘Sumpah Kebulatan Tekad’, benda-benda peninggalan Mayjen Soengkono, senjata hasil rampasan perang dan foto-foto pertempuran 10 November 1945.

Ada pula bukti perjuangan Laskar Rakyat Surabaya dalam pertempuran 10 November 1945. Yang agak beda adalah diorama statis berisi perundingan politik Ir Soekarno dan Howtorn.

“Kebetulan saya dapat tugas dari sekolahan untuk mencatat dan bikin resume mengenai sejarah perjuangan tentara Indonesia di masa kemerdekaan,” kata Satrio, siswa kelas 2 sebuah SMA swasta di Sidoarjo.

“Isinya tetap saja. Sejak saya masih sekolah sampai saya punya anak ya begini ini. Harusnya pihak pengelola punya strategi agar museum ini lebih menarik seperti yang saya lihat di Jakarta itu bagus lo,” cetus Anisah yang kebetulan mengantarkan anaknya menyimak perjalanan para pejuang di museum tersebut.

Pihak Museum Sepuluh Nopember menepis anggapan tidak ada inovasi. Tahun ini misalnya, museum yang menempati area bawah tanah Tugu Pahlawan itu menggandeng museum-museum lain dalam kegiatan pameran.

Pameran yang berlangsung selama setahun penuh itu sudah dimulai sejak Januari lalu dan diisi pameran dari Museum Loka Jalacrana, Surabaya (24-25/1), disusul Museum Sunan Giri, Gresik (21-22/2), Museum Kembang Putih, Tuban (28-29/3), Museum Proklamator, Kota Blitar (25-26/4).

Setelah istirahat tiga bulan, kegiatan berlanjut bulan Agustus 2015 yaitu pameran Museum Sunan Drajat, Lamongan (8-9/8), Museum D’Topeng, Batu (29-30/8), Museum Dirgantara, Kota Malang (12-13/9), Museum Etnografi Unair, Surabaya (26-27/9), Museum Majapahit-Trowulan, Mojokerto (24-25/10), dan ditutup pameran dari koleksi Museum Unesa, Surabaya (28-29/11).

Selain itu, juga ada kegiatan bersama 10 museum sekaligus yang digelar selama sepekan (22-26/5). Museum yang akan memajang koleksinya itu adalah Museum Brawijaya (Malang), Museum Mandilaras (Pamekasan), Museum Anjak Ladang (Nganjuk), Museum Rajekwesi (Bojonegoro), Museum Kesehatan (Surabaya), Museum Islam Nusantara (Jombang), Museum Pemda Kabupaten Lumajang, Museum Penataran Kabupaten Blitar, dan juga Museum Sepuluh Nopember sendiri.

“Ini sebagai strategi untuk meramaikan museum ini (Museum Sepuluh Nopember), sekaligus mengenalkan pada masyarakat tentang keberadaan museum di Jawa Timur,” ujar Darsono, dari Museum Sepuluh Nopember.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved