DPRD Jatim

DPRD Jatim Desak Hentikan Penjualan Pertalite, Berikut Alasannya

#SURABAYA_ Pemberlakukan pertalite akan berdampak pada kenaikan harga kebutuhan bahan pokok. Terutama menjelang datangnya Ramadhan.

DPRD Jatim Desak Hentikan Penjualan Pertalite, Berikut Alasannya
surya/sugiharto
Mulai Mei mendatang, pilihan BBM yang ditawarkan Pertamina akan bertambah, dengan kehadiran Pertalite.

SURYA.co.id | SURABAYA - DPRD Provinsi Jatim mendesak agar pemberlakuan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di perkotaan termasuk Surabaya dihentikan. Pemberlakukan ini rencanya mulai Mei 2015 ini.

"Sebaiknya ditunda dulu. Pemberlakukan pertalite akan berdampak pada kenaikan harga kebutuhan bahan pokok. Terutama menjelang datangnya Ramadhan. Ini meresahkan masyarakat," kata Anggota Komisi B DPRD Jatim, Yusuf Rohana, Kamis (6/5/2015).

Munculnya BBM jenis Pertalite merupakan skema pemerintah untuk mengurangi subsidi secara perlahan-lahan. Atau menghapus total dana subsidi, meskipun pertamina berjanji tidak akan menghapus premium.

Pertalite adalah jenis BBM baru. BBM jenis bini kualitasnya diakui lebih baik ketimbang premium. Kandungan RON pertalite 90 dan RON premium 88. Namun dari segi harga lebih mahal.

"Kalau harga pertalite diberlakukan maka akan berdampak pada opersional pengiriman sembako. Tentu akan berdampak pada kenaikan harga," kata Yusuf.

Harga Pertalite lebih mahal sekitart Rp 1.000. Harga BBM jenis ini Rp 8.300 per liter dan premium Rp 7.400 per liter. Menurut Ketua Fraksi PKS DPRD Jatim ini, yang terpenting adalah menjaga stok premium tetap aman.

Premium juga harus dijamin mudah didapat. "Patut dipetanyakan dengan melenyapkan premium dengan memaksa masyarakat menggunakan Pertalite. Padahal kemampuan beli masyarakat pada premium," katanya.

Anggota Komisi B DPRD Jatim, Aida Fitrianti menilai pemberlakuan Pertalite pada Mei ini akan memperparah kondisi masyarakat. Harga sembako menjelang puasa selalu naik. " Pemberlakuan pertalite ini hanya mersahkan masyarakat," kata Aida.

Pemprov Jatim didesak perlu mengantisipasi kenaikan harga menjelang bulan Ramadan. Melakukan pengawasan distribusi sembako untuk menghindari penimbunan sembako.

Aida menawarkan agar dilakukan cara mengontrol kenaikan harga dengan memberi subsidi biaya angkut sembako dan melakukan operasi pasar di titik keramaian.

“Mafia-mafia dapat saja menimbun barang, apalagi dengan munculnya Pertalite, bisa dijadikan alasan harga naik. Begitu masuk bulan puasa atau lebaran, harga dinaikkan ,” paparnya.

Mei ini, pemerintah mulai memberlakukan BBM jenis partalite di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Dimana Pertalite yang nantinya menggantikan Premium dibanderol dengan harga sekitar Rp 8.000 hingga Rp 8.300 per liter.

Pertalite hanya akan dijual di SPBU kota-kota besar di Indonesia, termasuk Surabaya. Tahap pertama, penjualan Pertalite di Kota Jakarta. Bila berjalan baik, akan dilanjutkan ke daerah lain di Indonesia.

Sementara, di SPBU kota-kota kecil dan pinggiran kota besar, Premium masih tetap dijual. Selain itu, Premium hanya akan dijual kepada pengendara angkutan umum. 

Tags
Pertalite
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved