Selasa, 7 April 2026

Eksklusif Ironi Hari Pendidikan

Jualan Es Cendol dan Baju Buat Sekolahkan 13 Anak Jalanan

Rony dan kawan-kawannya bukan anak orang kaya. Mereka menyekolahkan anak jalanan dengan bekerja keras.

Penulis: Benni Indo | Editor: Titis Jati Permata
surya/benni indo
Rony Kurniawan bersama dua anak jalanan yang menjadi adik angkatnya, Amin (kiri) dan Indra (kanan) di rumah kotrakannya, Selasa (28/4/2015). 

SURYA.co.id | MALANG - Rony Kurniawan (25), alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), tak tega melihat anak-anak jalanan (anjal) tidak bisa bersekolah.

Itu sebabnya, ia bersama 45 rekannya, sebagian besar mahasiswa di Malang, berjuang membantu anjal untuk dapat menikmati pendidikan.

Sampai Kamis (30/4/2015), Rony Cs telah menyekolahkan 13 anjal, terdiri dari 6 siswa SD, 6 SMP, dan 1 SMA.

BACA JUGA » Paling Sulit Rayu Anak Jalanan Sekolah, Pilih Mengamen atau Mengasong

“Sebenarnya ada banyak anak jalanan yang sudah kami dekati. Tapi, baru 13 ini yang mau sekolah,” ujar Rony saat ditemui di rumah kontrakannya di kawasan Jl Bunga Merak I/14 Kota Malang, Selasa (28/4/2015).

Alumnus jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UMM itu bukan orang kaya atau dari keluarga berkecukupan sehingga bisa membantu orang lain. Ia dan kawan-kawan menyekolahkan anjal dengan bekerja keras.

Rony mencari uang dengan berjualan baju bekas di Pasar Comboran.

Selain dari kulakan baju bekas impor, terkadang ia juga mendapat pasokan baju bekas dari kawan-kawan atau sumbangan orang.

BACA JUGA » Belajar Bareng di Pinggir Jalan, Sering Jadi Sasaran Razia Satpol PP

Selain baju bekas, Rony juga berjualan es cendol di depan kampus Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Hanya Rony yang berjualan baju bekas dan es cendol.

Rekan-rekannya yang lain, yang tergabung dalam komunitas Save Street Children (SSC) kebanyakan berstatus mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Kota Malang.

Menurut Rony, SSC adalah komunitas anak muda yang peduli terhadap anjal.

"Kami sangat senang bisa berbagi dengan orang lain dari hasil jerih payah kami sendiri," ungkapnya.

Mencari duit, katanya, tak mudah. Terkadang, ia bisa meraup omset hingga Rp 400.000.

Tapi, saat sepi, omset hanya Rp 100.000. Sebesar 10 persen dari pendapatannya itulah yang disumbangkan untuk biaya sekolah anjal. (bni)

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA


Sumber: Surya Cetak
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved