Rabu, 15 April 2026

Tata Kota

15 Keluarga Terpaksa Sewa Kost di Kolong Jembatan Gadang, Malang

Rumah kos bawah jembatan Gadang, Kota Malang, Selasa (24/3/2015). Sebanyak 15 keluarga tinggal di tempat itu.

Penulis: Samsul Hadi | Editor: Yuli
SURYA.co.id/Hayu Yudha Prabowo
KOS-KOSAN - Penghuni kos bersantai di rumah kos-kosan bawah jembatan Gadang, Kota Malang, Selasa (24/3/2015). Sebanyak 15 keluarga tinggal di tempat kos-kosan ini dengan membayar Rp 80.000 sampai Rp 100.000 per bulan. 

SURYA.co.id | MALANG – Razia anak jalanan, gelandangan, dan pengemis yang gencar dilakukan Dinas Sosial (Dinsos) Kota Malang, dalam pekan ini, membuat Zainul (47) kebingungan. Bapak dua anak asal Kepanjen, Kabupaten Malang, ini berencana mencari tempat kos untuk menghindari razia petugas.

Zainul yang sehari-hari bekerja mengumpulkan barang bekas (rosokan) itu berencana kos di bawah jembatan Gadang. Zainul bersama istrinya, Solikah (36) dan putra sulungnya, Romi (6) datang ke jembatan Gadang, Selasa (24/3/2015). Ia ingin mencari tahu apakah masih ada tempat kosong di bawah jembatan tersebut.

“Masih ada dua yang kosong, ini masing menunggu pemiliknya. Rencananya mau kos di sini (di bawah jembatan Gadang), untuk menghindari razia,” kata Zainul yang sedang memperbaiki rem becaknya untuk mengangkut rosokan.

Di bawah jembatan Gadang memang terdapat beberapa petak bangunan semi permanen. Bangunan tersebut berdindingkan bambu dan beratap terpal. Bangunan-bangunan itu selama ini digunakan sebagai tempat tinggal para pengemis, pemulung, dan pengamen. Mereka tinggal berkelompok di lokasi itu. Sedikitnya ada 15 kepala keluarga yang tinggal di bawah jembatan Gadang.

“Pada 2013, saya sudah pernah tinggal di sini. Dulu hanya ada tujuh orang yang tinggal di sini. Sekarang sudah ada 15 KK. Tempat saya dulu sudah dipakai orang, sekarang kalau mau tinggal lagi harus kos. Bayarnya sekitar Rp 80.000 sampai Rp 100.000,” ujarnya.

Selama ini, Zainul bersama istri dan anaknya tidur di emperan toko. Barang-barang miliknya ditaruh di atas becak. Tetapi, sekarang Zainul khawatir terkena razia petugas jika tidur di emperan toko. “Sekarang lagi musim razia, makanya saya mencari tempat kos,” katanya.

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosila (Dinsos) Kota Malang, Linda Desriwati menyatakan Dinsos bersama Satpol PP memang sedang gencar melakukan penertiban anak jalanan, gelandangan, dan pengemis. Penertiban itu sebaga langkah penghaluan keberadaan anak jalanan, gelandangan, dan pengemis di Kota Malang.

“Mulai kemarin malam kami melakukan razia. Ada 27 anjal, pengemis, dan gelandangan yang terkena razia. Mereka kami data lalu kami kirim ke tempat rehabilitasi di Sidoarjo,” katanya.

Dikatakannya, saat ini Dinsos juga sedang melakukan pendataan keberadaan anjal, gelandangan, dan pengemis di Kota Malang. Dinsos terjun langsung ke lokasi untuk mendata identitas para anjal, gelandangan, dan pengemis. Dalam pendataan itu, Dinsos menemukan kantong-kantong yang menjadi tempat tinggal para gelandangan, termasuk di bawah jembatan Gadang.

Adapun kantong-kantong yang menjadi tempat tinggal para gelandangan, yaitu, di bawah jembatan Gadang ada 12 petak bangunan semi permanen untuk tempat tinggal. Di bawah jembatan Jl Kahuripan ada delapan kepala keluarga. Di jembatan depan taman rekreasi kota ada lima kepala keluarga, dan di jembatan Brantas ada enam kepala keluarga.

Selain itu, Dinsos juga mendapati 35 KK yang bekerja sebagai pengemis dan pengamen tinggal berkelompok di dekat Pasar Induk Gadang. Para warga yang terdata itu memiliki KTP Kota Malang. Di lokasi yang sama masih ada sekitar 100 KK yang berprofesi sebagai pengemis dan pengamen yang tidak memiliki KTP Kota Malang.

Di Muharto Gang 5 dan 7, Kelurahan Kota Lama, Kecamatan Kedungkandang, juga menjadi kantong berkumpulnya pengemis dan pemulung. Sedikitnya ada 50 KK yang berprofesi sebagai pengemis tinggal di lokasi itu. Di wilayah Jagalan juga ada sekitar 50 KK, di Mergosono sekitar 30 KK, dan di Kelurahan Sukun ada 50 KK.

Sedangkan tempat mangkal para pengimis itu menyebar di traffic light di wilayah Ijen, Seokarno-Hatta, Sabilillah, Rampal, Sulfat, Kasin, Janti, dan Veteran. “Semua sudah kami data dan kami sampaikan ke wali kota. Kami akan melakukan pembinaan kepada mereka, tetapi secara bertahap. Karena mereka mempunyai masalah yang berbeda-beda, solusinya juga berbeda. Kami terus melakukan pendekatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan keterangan dari pengemis yang terjaring razia, rata-rata masalah yang mereka hadapi karena terjerat utang di rentenir. Menurutnya, banyak wanita bersama anaknya yang akhirnya menjandi pengemis di pinggir jalan karena untuk membayar utang di rentenir.

“Biasanya, suaminya jadi tukang becak, penghasilannya pas-pasan. Karena terbelit utang di rentenir, akhirnya istrinya disuruh mengemis,” katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved