Warga Surabaya Hilang di Turki
Antisipasi Paham Radikal, Polisi Sambangi Ponpes Al Furqan
Sekedar diketahui, pondok yang berbasis hapalan Al Quran ini hanya menampung sekitar 20 santri saja.
Penulis: Adrianus Adhi | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id | MALANG - Dua mobil patroli polisi mendatangani Pondok Pesantren Al Furqan, Jalan Joyo Utomo, Kota Malang, Selasa (10/3/2015) pagi.
Mereka datang ke pondok pesantren tersebut untuk silahturahmi saja.
"Kedatangan polisi hanya untuk silahturahmi saja," tegas pengasuh Pondok Pesantren, Miftahudin Spdi saat ditemui SURYa.co.id, Selasa (10/3/2015) siang.
Mifta, sapaan dia, memaparkan perbincangan saat itu berkaitan dengan aktivitas pondok, dan upaya pondok dalam menangkal paham radikal.
"Intinya hanya silahturahmi saja," tegas dia kembali.
Walaupun demikian, kedatangan polisi ke pondok pesantren, yang lokasinya tak jauh dari lapangan Merjosari mengundang sejumlah pertanyaan.
Sebab polisi datang menggunakan dua mobil patroli berasal dari Polresta Malang, dan Polda Jatim.
Selain itu, kedatangan ini terjadi setelah enam warga Surabaya dikabarkan hilang di Turki, dan terlibat ISIS.
Banyak yang berpendapat bahwa sedang terjadi penggrebekan di sana. Warga sekitar juga berpendapat seperti itu.
Saat dikonfirmasi, kabar ini kembali ditepis oleh Mifta. Ia memastikan kedatangan polisi hanya untuk bertamu, atau silahturahmi saja.
Bahkan, ia menyebut kalau tidak ada perbincangan terkait ISIS ataupun paham radikal lainnya.
Terlepas dari kasak kusuk gerakan radikal, Mifta mengaku senang dengan sikap polisi, dalam memperhatikan pondok pesantren kecil seperti mereka.
Sekedar diketahui, pondok yang berbasis hapalan Al Quran ini hanya menampung sekitar 20 santri saja.
Penghuni santri merupakan mahasiswa di kampus ternama di Malang.
Selain itu, bangunan pesantren ini juga sewa saja. Usia pondok ini diperkirakan sekitar lima tahun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/1003al-furqan-malang-pondok-pesantren.jpg)