SNMPTN 2015
Mayoritas PTN Tak Mau Diduakan
Kalau nilainya lebih baik dari pilihan pertama, maka peserta pilihan 1 yang sudah masuk daftar kuota punya peluang digeser oleh peserta pilihan dua
SURYA.CO.ID | SURABAYA - Pendaftar Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2015 harus jeli dan berhati-hati saat menjatuhkan pilihan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebab tak semua PTN mau diduakan.
Padahal menurut aturan, memilih dua PTN sekaligus diperbolehkan, asal satu diantara PTN yang dipilih harus berada pada provinsi yang sama dengan tempat tinggal pendaftar.
Humas SNMPTN Universitas Airlangga Bagus Ani Putra mengungkapkan, pilihan kedua dipastikan tak akan masuk hitungan. Faktor terbatasnya kuota, ditambah komitmen pendaftar menjadi pertimbangan penting dalam penerimaan mahasiswa baru.
“Menurut pengalaman, pelamar pilihan kedua rawan meninggalkan kursi kosong karena tidak melakukan registrasi ulang. Ini sama saja membatalkan peluang pendaftar lainnya,” ungkapnya.
Dalam minggu ini saja, total pendaftar SNMPTN di Unair mencapai 5.850 orang. Dari Jumlah itu, 4.205 menetapkan Unair sebagai pilihan pertama. Sedangkan 1.645 lainnya mendaftar sebagai pilihan kedua. “Secara otomatis pendaftar di pilihan kedua ini akan gugur,” ungkap Bagus.
Bagus menambahkan, akan jauh lebih baik seandainya pendaftar SNMPTN menempatkan Unair sebagai pilihan pertama. Namun hal ini terkendala peraturan panitia nasional yang mengizinkan pendaftar memilih dua PTN, dengan maksimal 3 program studi pilihan.
Demikian pula yang terjadi pada Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Secara prosedural, pelamar SNMPTN punya hak memilih dua PTN sekaligus. Tetapi PTN juga memiliki hak pertimbangan untuk memprioritaskan calon mahasiswa barunya yang akan diterima.
Prof Warsono Rektor Unesa mengatakan, biasanya jumlah pendaftar pilihan kedua sangat kecil sehingga pilihan pertama akan diprioritaskan lebih dulu.
“Kalau pendaftar pilihan pertama Unesa sudah memenuhi kuota, apa gunanya melirik pemilih kedua. Terkadang meski mereka punya prestasi yang lebih baik dari pendaftar pilihan pertama,” kata Warsono.
Penentuan pilihan itu dinilai Warsono bisa menggambarkan komitmen pendaftar untuk memilih PTN dan prodi yang dituju sebab biasanya dikhawatirkan pemilih kedua yang diterima ternyata tidak bersedia mendaftar ulang karena sudah mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).
Warsono menganggap hal ini bukan suatu penolakan sebab Unesa tidak mau dikira melawan hak pendaftar. “Pada dasarnya tidak ada PTN yang mau di nomor duakan. Saya yakin, semua PTN juga memiliki prinsip seperti itu,” tutur Warsono.
Cara ini yang dinilainya sebagai strategi suatu PTN sehingga tidak akan ada bangku kosong karena konsekuensi dari hal ini akan lebih parah dihadapi PTN nantinya.
Lain halnya dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. ITS punya kebijakan lain sebab pendaftar pilihan kedua masih diperhitungkan dan masih bisa bersaing dengan pendaftar pertama dalam SNMPTN.
Sampai Rabu (4/3/2015), data pelamar SMPTN yang masuk ke ITS telah mencapai 4.641 pendaftar. Dari data tersebut, pilihan pertama mencapai 3.377 pendaftar, sedangkan pilihan kedua mencapai 1.264 pendaftar.
Bekti Cahyo Hidayanto, Staf Humas SNMPTN ITS menjelaskan, tahun lalu dari data nasional pendaftar yang lolos SNMPTN, pilihan kedua mencapai 0,84 persen.