Jumat, 10 April 2026

Hutan Kota Batu Mulai Digandrungi

Di Sini Nyaman, Kami Habiskan Waktu Sepanjang Hari

“Kami nyaman belajar di sini. Biasanya kami menghabiskan waktu sepanjang hari, tapi tergantung cuaca juga,” ungkap Edi.

Penulis: Iksan Fauzi | Editor: Parmin

SURYA.co.id | BATU - Di sebuah gazebo di Hutan Kota Batu di Jalan Sultan Agung, enam anak muda ini tertawa lepas. Sesekali, mereka menggerakkan jemarinya membentuk huruf ‘S’. Bibir mereka bergerak seperti orang bicara, namun tak terdengar apa yang diucapkan.

Minggu (1/3/2015) siang, ketika reporter Surya.co.id Iksan Fauzi mendekat, senyum hangat terlontar dari mereka. Tumpahan rasa kegirangan hingga menggerakkan bangunan gazebo yang terbuat dari kayu itu tak terelakkan.

Mereka mengenalkan diri dari Komunitas Tuli Shining Batu. Kedatangan mereka di Hutan Kota untuk belajar bahasa isyarat bersama. Keguyuban dan kebersamaan pun terlihat saat mereka belajar.

Baru dua bulan ini komunitas itu berdiri. Komunitas yang dipelopori mahasiswa Universitas Negeri Malang Edi Winarko dan siswa SMA Luar Biasa (SMALB) kelas XII Fiorent Marthinus kini sudah memiliki 15 anggota.

Kegiatan belajar bukan sekali ini dilakukan, hampir tiap hari Minggu, anggota komunitas yang terdiri dari laki-laki dan perempuan ini belajar bersama. Mereka berasal dari Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang yang masih menjadi siswa SMA LB maupun sudah alumni.

“Kami nyaman belajar di sini. Biasanya kami menghabiskan waktu sepanjang hari, tapi tergantung cuaca juga,” ungkap Edi.

Bagi anggota komunitas, belajar bahasa isyarat dinilai sangat penting sebagai alat komunikasi sesama mereka maupun dengan orang umum. Tak jarang, gagalnya komunikasi antarmereka bisa menyebabkan perkelahian.

“Banyak anak-anak (anggota komunitas) minder ketika berkomunikasi dengan orang lain (yang tidak tuna rungu), makanya, kami belajar di sini supaya tidak canggung saat komunikasi,” beber mahasiswa jurusan fotografi ini.

Menurut Fiorent, suasana Hutan Kota enak untuk belajar, sayangnya, banyak sampah berceceran. Ia berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menyediakan penjaga seperti yang ada di Alun-alun Kota Batu.

“Kami ingin hutan ini seperti alun-alun, ada papan pengumuman dilarang merokok juga di sini,” ujarnya.

Siang itu, suasana di Hutan Kota mendung. Banyak pengunjung yang datang ke sana, ada yang membawa anak-anaknya, pacar, maupun keluarga. Empat vandal bertuliskan Shining Batu dan KWB yang ada di tengah hutan menjadi latar oleh pengunjung untuk mengambil foto.

Selain kehadiran Komunitas Tuli, siang itu, dua siswa kelas X jurusan Animasi SMK Negeri 3 Kota Batu, Ruven Ezekiel Julio dan Rahmat Wahyu juga menikmati suasana hutan. Mereka datang untuk mencari inspirasi untuk sketsa.

“Kalau di alun-alun kan terlalu ramai. Orang-orang Batu butuh ruang terbuka hijau yang nyaman,” tukas Ruven asal Kota Batu sembari membuat sketsa bunga di selembar kertas.

Warga Desa Ngingit, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, Nunuk Solihatin yang sedang duduk di kursi hutan merasakan keindahan pohon-pohon yang ada. Suasana di taman tidak ditemuinya di desanya.

“Bagus tamannya. Di desa saya belum ada seperti ini,” kata perempuan yang datang bersama anak-anaknya ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved