Audisi KDI 2015
Yang di Bawah 17 Tahun Tetap Diberi Kesempatan
Punya bakar menyanyi dangdut? Kini KDI jemput bola ke kantong-kantong penyanyi dangdut. Di Jatim ada 6 kota yang dikunjungi juri KDI.
Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Achmad Pramudito
SURYA.co.id | SURABAYA - Bagi pemilik bakat menyanyi, khususnya dangdut kini tak perlu capek-capek ke kota Surabaya untuk ikut Kontes Dangdut Indonesia (KDI). Karena MNCTV yang menjaring para pemilik bakat menyanyi dangdut ini langsung melakukan aksi ‘jemput bola’.
Ada 24 kota di Indonesia yang dijadikan titik jemput bola. Khusus di Jawa Timur, ajang pencarian bakat KDI 2015 dilakukan di Pasuruan, Tulungagung, dan Bangkalan yang sudah dilakukan pada Sabtu (13/2).
Berikutnya disusul Kediri (14/2), Surabaya (14-15/2), dan Nganjuk (15/2). “Inilah yang membedakan KDI 2015 dengan penyelenggaraan sebelumnya. Kami langsung datang ke kantong-kantong penyanyi dangdut,” kata Gerryndra Danurwenda, Executive Producer KDI 2015, Sabtu (14/2).
Meski memberlakukan aturan usia minimal calon peserta adalah 17 tahun, namun Gerryndra menyatakan hal itu tidak baku. "Memang batasannya 17 tahun, tapi kalau ada yang di bawah itu dan benar-benar bagus kami akan berikan kesempatan unjuk gigi di video booth. Hasilnya tetap kami bawa ke Jakarta untuk dipertimbangkan. Kami hargai upaya mereka yang sudah jauh jauh datang." ujar Gerry.
Gerry lalu memberi contoh di Bangkalan ada peserta yang masih berusia 12 tahun ikut dalam antrean. Selain itu, antusiasme ikut audisi KDI yang begitu besar ditunjukkan oleh para peserta yang usianya sudah lebih 40 tahun.
“Mereka dari beragam profesi mulai bidan, guru, hingga penyanyi panggung. Bangkalan memang terkenal dengan potensi dangdut luar biasa. Banyak pedangdut berkualitas baik berasal dari daerah ini karena Bangkalan kental dengan cengkok dangdut khas Madura,” cetus Gerry.
Banyaknya daerah yang dikunjungi membuat para peserta audisi merasa bersyukur. Pasalnya baru kali ini kota mereka didatangi tim audisi ajang pencarian bakat menyanyi dangdut terbesar di Indonesia tersebut sehingga peserta tak perlu lagi pergi jauh ke luar kota untuk mengikuti audisi.
“Karena di kotaku nggak ada audisi maka saya terpaksa datang ke Surabaya,” ujar Yulika Gita yang datang dari Bojonegoro.
Mahasiswi IKIP PGRI Jurusan Bahasa Indonesia ini kemarin merasa beruntung bisa lolos hingga babak seleksi terakhir. “Tinggal tunggu panggilan dari Jakarta,” imbuhnya.
Sementara Nensi Indriawati, meski asalnya Jember, kini bungsu dari dua bersaudara ini tengah menimba ilmu di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Jurusan Sendratasik semester 2. Sama seperti Yulika Gita, Nensi baru pertama kali menjajal peruntungannya ikut audisi KDI.