Eksklusif Save UB Kediri
MoU Terkatung-katung, Pemkab Kediri Bersiap Rebut Kampus IV UB
Keseriusan ditunjukkan pemkab dengan menyiapkan lahan 28 hektar.
SURYA.co.id | KEDIRI - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri bersiap-siap mengambil alih (merebut) Kampus IV-Universitas Brawijaya (UB) di Kediri dari tangan Pemkot Kediri.
Keseriusan ditunjukkan pemkab dengan menyiapkan lahan 28 hektar.
“Kalau memang rencana pembangunan kampus di wilayah Kota Kediri batal, kami siap melanjutkannya. Lahan sudah siap. Lokasinya di Plosoklaten,” jelas Wakil Bupati Kediri, H Masykuri, yang diwawancarai Surya, Kamis (12/2/2015).
Masalah lahan menjadi penyebab pembangunan kampus kerjasama Pemkot-UB Malang terkatung-katung sejak 2011.
Lahan 23 hektar di Kelurahan Mrican yang disiapkan semasa Wali Kota Samsul Azar itu tak kunjung tuntas prosesnya.
Proses makin mengambang. Sebab Abdullah Abu Bakar, Wali Kota pengganti Samsul justru meminta MoU pendirian UB di Kediri direvisi.
Termasuk revisi luasan lahan, yang semula 23 hektar direvisi tinggal 12 hektar.
Akibat tidak jelasnya pembangunan, kini 2.000 mahasiswa UB Kediri harus kuliah di kampus ‘darurat’.
Numpang di Gedung Badan Kepegawaian (BKD) Pemkot Kediri. Sebagian lagi menempati gedung sewaan di kampus Pawyatan Daha.
Selain menyiapkan lahan, menurut Masykuri, Pemkab Kediri diam-diam juga pernah melakukan penjajagan 2013 silam.
Ketika itu pimpinan UB masih dijabat Prof Yogi Sugito. Jabatan itu, per April 2014 lalu, digantikan Prof M Bisri hingga sekarang.
“Kalau dengan Rektor UB yang baru, belum pernah (ada pembicaraan),” ungkap Masykuri.
Menurut Masykuri, beberapa kali pihaknya sempat mengandakan pertemuan dengan pihak Rektor UB. Tapi rencana itu batal.
“Kami akan agendakan pertemuan lagi dalam waktu dekat,” tuturnya.
Masykuri menegaskan, Pemkab Kediri berkepentingan untuk mempertahankan UB di Kediri tetap eksis.
“Keberadaan kampus UB dapat memberikan multiplier effect bagi masyarakat. Jadi kalau pihak UB serius, kami juga lebih serius,” terang Masykuri yang juga alumni UB ini.
Masykuri menambahkan, pemkab siap memberikan tanah di Plosoklaten, karena tanah itu sudah bersertifikat. Jadi proses hibah bisa berlangsung lebih cepat.
“Selain itu, lokasi itu (lahan untuk kampus) cocok untuk pengembangan wilayah Kabupaten Kediri,” katanya.
Kepala Bagian Humas UB, Dr Anang Sujoko merespon positif tawaran Pemkab Kediri. Namun demikian, UB tidak bisa buru-buru menerimanya.
UB masih menghormati MoU pendirian kampus yang pernah ditekan bersama Wali Kota Kediri, Samsul Azhar, empat tahun silam.
”Kami berterima kasih kepada pemkab yang punya kepedulian untuk pengembangan pendidikan. Tapi kami masih utamakan pemkot sebagai yang pertama kali melontarkan inisiatif. Yang jelas upaya pemkab sangat kami hargai,” lanjut doktor komunikasi dari University of South Australia ini.
Yang jelas, menurut Anang, UB tetap serius melanjutkan pendirian kampus di Kediri, meski belum tahu pasti, kapan bisa direalisasi.
Ditambahkan, proyeksi besar UB, kampus IV di Kediri nanti, tidak hanya membuka perkuliahan S-1 tapi juga S-2.
Sembari menunggu kejelasan hibah tanah di Kediri, UB kini fokus membangun Gedung Kuliah Bersama (GKB) di kawasan Dieng, Kecamatan Sukun, Malang. (dim/ben/day)
Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA