Selasa, 7 April 2026

Setahun Kehilangan Batok Kepala, Ashari Tak Pernah Mendapatkan Bantuan

Pascakejadian itu, kini Ashari yang sudah berpisah dengan istrinya sejak setahun lalu itu tidak bisa beraktivitas normal

Penulis: Sudarmawan | Editor: Satwika Rumeksa

SURYA Online, MADIUN-Nasib naas dialami Imam Ashari (44) warga Dusun Gunting, Desa Kradinan, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Hal ini lantaran usahanya untuk mengubah nasibnya di lokasi perantauan gagal. Ini menyusul, kuli bangunan yang sempat bekerja di salah satu rumah di kawasan Samarinda, Kalimantan Timur itu, kini mengalami cacat fisik. Yakni batok kepalanya hilang (terkelupas) setelah  dirinya tersengat aliran listrik di tanah perantauan itu.

Penderitaan pria beranak satu ini, semakin lengkap tatkala harus berpisah dengan istrinya setelah ia tak bisa bekerja. Apalagi, selama menderita kehilangan batok kepala itu, pria ini tak pernah mendapatkan bantuan sama sekali baik dari dermawan maupun dari sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemkab Madiun.

"Penderitaan dan luka di kepala saya ini sudah sejak setahun lalu. Tetapi, sampai sekarang belum pernah mendapatkan bantuan sama sekali," terang Imam Ashari kepada Surya, Senin (15/12/2014).

Ashari menjelaskan saat itu dirinya bekerja sebagai kuli bangunan di Samarinda, Kalimantan Timur. Ketika berada di lantai tiga bangunan sebuah rumah lokasi kerjanya, dirinya tidak mengetahui di atas kepalanya ada sebuah kabel beraliran listrik. Tanpa disadari ketika berdiri, kabel beraliran listrik itu mengenai kepalanya hingga korban terpelanting jatuh ke lantai dua.

"Usai bersih-bersih sambil jongkok untuk menghabiskan waktu saat berdiri kepala saya menyentuh kabel listrik. Akhirnya saya jatuh ke lantai dua dan sempat koma selama dua hari sebelum pulang ke kampung halaman ini," imbuhnya.

Pascakejadian itu, kini Ashari yang sudah berpisah dengan istrinya sejak setahun lalu itu tidak bisa beraktivitas normal dan bekerja layaknya pria seusianya. Selain menderita katarak, kini dirinya tak bisa menjalankan operasi akibat luka dan hilangnya batok kepalanya itu.

Alasannya, untuk biaya operasi dirinya sudah tak memiliki harta benda. Bahkan kini, hidupnya hanya bergantung belas kasihan kakak kandungnya, Sriyatun yang membuka usaha warung kopi di dekat rumahnya itu.

"Saya sudah tak bisa apa-apa. Kepala saya rasanya sakit kalau obatnya terlambat. Sarannya Pak Mantri harus dioperasi. Tetapi, karena tidak ada biaya saya pasrah. Saya malu hidup ditopang kakak perempuan saya. Karena kakak sendiri punya keluarga," ungkapnya sambil menangis.

Sementara Ny Sriatun (47) yang tak lain kakak kandung, Imam Ashari berharap adiknya mendapat bantuan pengobatan yang layak dari Pemkab Madiun. Alasannya, sejak saat kejadian yang menimpa adiknya tersebut, tidak pernah mendapat santunan maupun bantuan dari pihak mana pun, termasuk dari Pemkab Madiun.

"Harapan kami adik bisa mendapat bantuan dari pemerintah. Seperti bantuan kompensasi BBM adik saya ini juga tidak mendapatkannya. Hanya belas kasihan dari para tetangga dan saya adik menggantungkan hidupnya," pungkasnya.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok.
LIKE Facebook Page www.facebook.com/SURYAonline
FOLLOW www.twitter.com/portalSURYA

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved