Minggu, 31 Mei 2026

Dispenser Otomatis SMKN 2 Bojonegoro

Ulurkan Gelas Air Keluar, Gelas Ditarik Keran Mati

Dijelaskan Anas, sistem otomatis pada alatnya ini dipengaruhi adanya sensor LDR yang diletakkan di dinding dispenser bawah.

Tayang:
Penulis: Musahadah | Editor: Parmin

SURYA Online, SURABAYA - Sebanyak 99 siswa dari seluruh wilayah di Jatim beradu kreativitas dan inovasi dalam Lomba Cipta Karya Siswa SMK di UPT Pelatihan dan Pengembangan Pendidikan Kejuruan (PPPK) Dinas Pendidikan Jatim, Kamis (27/11/2014). Salah satu inovasinya, dispenser otomatis karya Muhammad Nasrullah, siswa SMKN 2 Bojonegoro.

Dispenser umumnya hanya dilengkapi dua atau tiga kran untuk menuang air panas, dingin atau hangat. Cara menuangkan pun manual dengan memencet kran hingga air keluar. Hal ini kerap membuat gagang kran patah atau bahkan rusak.

Kerusakan itu tidak akan terjadi jika memakai dispenser karya Muhammad Nasrullah yang biasa disapa Anas.

Dispenser otomatis karya siswa kelas XII jurusan Elektronika Industri ini cukup sederhana. Galon (tempat air) dimasukkan ke dalam dispenser dengan dijungkir laiknya dispenser kebanyakan. Kran diletakkan di bagian tengah bawah.

Bagian bawah kran ini dikelilingi dinding tertutup dengan bagian depannya terbuka untuk memasukkan gelas.

Jika ingin mengambil air, gelas langsung dimasukkan tepat di bawah keran. Secara otomatis keran air akan terbuka dan menuangkan air pada gelas. Ketika gelas ditarik keluar, keran akan tertutup kembali.

”Pengambilan air otomatis yang saya buat ini berbasis mikrokontroler,” terang Anas saat ditemui di sela-sela lomba, Kamis (27/11/2014).

Dijelaskan Anas, sistem otomatis pada alatnya ini dipengaruhi adanya sensor LDR yang diletakkan di dinding dispenser bawah.

”Ketika ada gelas di bawah kran, sensor LDR akan di posisi high dan mengirimkan pesan ke relay. Selanjutnya relay akan membuka kran dispenser dan airnya keluar. Ketika gelasnya ditarik sensor akan low sehingga membuat kran tertutup kembali,”terangnya.

Mikrokontroler ini menggunakan program yang dibuat dari software mide 5. Mikronotroler inilah yang menentukan sensor LDR dalam keadaan high atau low.

Di lomba kemarin, Anas hanya diberikan waktu empat hari untuk membuat program dalam software mide 5, merakit mikrokontroler hingga membuat dispensernya.  

Hal itu tidak sulit bagi Anas karena sebelumnya dia pernah membuat alat serupa di rumahnya, juga dalam waktu empat hari.

Diakui Anas, ide menciptakan alat ini memang datang dari rumahnya. ”Dispenser di rumah sering rusak. Gagangnya sering patah sehingga sulit sekali untuk menuangkan airnya. Jadi saya langsung kepikiran membuat otomatis,”akunya.

Selain bisa menuang otomatis, dispenser ini juga bisa diprogram untuk mati sendiri ketika airnya penuh. Hal itu bisa terjadi katrena penambahan sensor jarak yang diletakkan di bagian krannya sehingga pada jarak tertentu kran akan tertutup otomatis. Dan otomatisasi ini bisa juga diberikan batas dan waktu (timer)sesuai dengan kapasitas gelas.

Hanya saja otomatisasi ini belum diterapkan dilomba kemarin karena waktu pembuatan alatnya hanya dibatasi empat hari. ”Saya sudah mencobanya dan bisa kok. Cuma memang di lomba ini tidak sampai itu karena waktunya terbatas,” ujarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved