Kritik Sosial Kota Malang dalam Pameran ‘Malangnya Aku’
Mereka memotret berbagai kehidupan sosial di Malang, seperti potret kehidupan seorang tambal ban dipinggir jalan.
Penulis: Adrianus Adhi | Editor: Parmin
SURYA Online, MALANG – Kritik tak selamanya disampaikan langsung dalam bentuk demonstrasi, ataupun diskusi. Gelaran pameran visual juga menjadi sarana penyampaian kritik, seperti yang dilakukan Komunitas mahasiswa Pencita Seni (Kompeni) STIKI Malang.
Dalam pameran bertajuk ‘Malangnya Aku’ ini, sekitar 50 mahasiswa dalam komunitas itu, mencoba menyampaikan kritik mereka dalam bentuk pameran fotografi, dan poster. Ada 70 karya yang dipamerkan di dalam Gedung E STIKI Malang, Kamis (27/11/2014).
Mereka memotret berbagai kehidupan sosial di Malang, seperti potret kehidupan seorang tambal ban dipinggir jalan yang merenung karena pelanggan tak kunjung tiba, desain visual anak skateboard yang putus asa karena tidak diberi karena permainan oleh pemerintah, atau potret kehidupan anak-anak di jalanan.
Kendati demikian, karya yang ditampilkan tidak melulu memaparkan kondisi sosial yang memprihatinkan. Ada pula karya-karya yang membuat mata seseorang tersenyum lega seperti keriuhan penonton Arema.
Menurut Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa, Kompeni STIKI Malang, Aviev Fanshur, dualisme dari karya para mahasiswa ini disebabkan tajuk pameran ‘Malangnya Aku’ bermakna ganda.
“Pertama adalah nasib yang malang, dan kedua adalah kebanggaan dengan kehidupan di Malang,” kata Aviev pada Surya, Kamis sore (27/11/2014).
Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok.
LIKE Facebook Page www.facebook.com/SURYAonline
FOLLOW www.twitter.com/portalSURYA