Jumat, 10 April 2026

Kenaikan Tarif Listrik Picu Inflasi Jatim Bulan Ini

Dari catatan BPS, kebutuhan pendidikan, jadi penyumbang inflasi terbesar ketiga setelah kelompok makanan.

Penulis: Aji Bramastra | Editor: Satwika Rumeksa

SURYA Online, SURABAYA – Seperti yang sudah dikhawatirkan banyak pelaku ekonomi, kenaikan tarif listrik sebesar 3,89 persen pada Juli lalu, berimbas panjang pada kondisi ekonomi regional. Dalam keterangan resminya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, M Sairi Hasbullah mengatakan, naiknya tarif listrik menjadi penyebab utama inflasi Jatim pada bulan Agustus 2014, yang sebesar 0,37 persen.

“Pada bulan Juli 2014 terjadi kenaikan tarif listrik prabayar. Sementara, pada bulan Agustus 2014 kenaikan tarif listrik reguler. Salah satunya tarif dasar listrik 11 persen untuk R3 dengan penggunaan daya lebih 2.200 VA. Imbasnya memang paling signifikan untuk inflasi bulan ini," katanya di Surabaya, Senin (1/9/2014).

Menurut Sairi, dari sejumlah komponen indeks harga konsumen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar, memang menjadi penyumbang inflasi terbesar, yakni sebesar 0.14 persen. Dari kelompok tersebut, kenaikan tarif listrik sebesar 3,89 persen, menjadi penyumbang tertinggi penyebab inflasi, yakni sebesar 0,11 persen.

Sairi pun menduga, kenaikan tarif listrik kedua pada September ini, juga akan punya pengaruh banyak untuk memicu inflasi.

“Saya pikir demikian, pasti memicu inflasi. Tapi, apakah angka inflasi bisa lebih tinggi dari bulan ini, itu masih belum tahu. Bulan ini misalnya, oke listrik naik, tapi tidak ada perputaran uang untuk mendaftar sekolah seperti bulan lalu,” ujar Sairi.

Sepanjang bulan Agustus, pendaftaran sekolah memang juga jadi salah satu penyebab utama inflasi. Dari catatan BPS, kebutuhan pendidikan, jadi penyumbang inflasi terbesar ketiga setelah kelompok makanan.

Sementara di kelompok makanan, ujar Sairi, kenaikan harga rokok dan cabai rawit, jadi penyumbang inflasi terbesar.

Adapun inflasi lokal terbesar di Jatim, terjadi di Surabaya, dengan tingkat inflasi 0,50 persen, atau jauh lebih tinggi dari inflasi regional Jatim, bajkan nasional. Tingkat inflasi di Surabaya bahkan lebih tinggi dari Jakarta (0,49 persen), Bandung (0,41 persen) juga Semarang (0,41 persen).

“Inflasi terendah terjadi di Kediri 0,06 persen. Sementara di Banyuwangi malah terjadi deflasi sebesar 0,12 persen, dan Jember 0,06 persen,” tambah Sairi.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved