Kampung Sepatu Mojokerto Butuh Ruang Pamer
Para perajin kini masih mengimpikan stan untuk berjualan yang representif.
Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Wahjoe Harjanto
SURYA Online, MOJOKERTO - Di tengah ancaman dan serbuan produk murah dari luar negeri, perajin sepatu di Kampung Sepatu Kota Mojokerto terus bertahan. Sebagian yang lain memang mulai tak lagi menjalankan produksinya.
Tidak hanya berkreasi memutasi manajemen usaha kreatifnya, namun berusaha mencari inovasi model dengan kualitas terjaga. Sebagian besar perajin di Kampung Sepatu berada di wilayah Kedungkwali, Surodinawan, Juritan, dan kampung lainnya.
"Kami sampai sekarang dipercaya Matahari (Matahari Dept Store) untuk menggarap sepatu Nevada. Ini sebuah kepercayaan dan hanya dijawab dengan kualitas," kata Fahmi Fahrizal, salah satu penerus perajin sepatu Montecarlo dari Kedungkwali saat ditemui di sela-sela pameran UMKM di GOR Majapahit, Kamis (14/8/2014).
Banyak perajin di Kampung Sepatu yang mendapat kepercayaan tidak hanya melayani pasar lokal dan luar daerah tetapi juga dari luar negeri. Lilik Rahmawati, salah satu perajin sepatu di Kedungkwali saat menunggu stan pameran di GOR mengaku bertahun-tahun melayani pasar di Iran.
"Tapi kami putuskan untuk menghentikan pesanan untuk luar negeri. Oleh eksportirnya terus menekan sementara keuangan tidak selancar kalau melayani pasar lokal dan luar daerah. Kami sekarang lebih baik fokus untuk melayani pasar lokal. Bahkan toko sepatu terbesar di Mojokerto juga mempercayakan ke teman-teman perajin, termasuk saya," kata Lilik Rahmawati, istri Abah Johan.
Lilik menuturkan, tempat produksi sepatu di Kedungkwali kerap dijadikan jujugan tamu. Jika tamu pejabat yang datang selalu memborong. Pernah Khofifah Indar Parawangsa memborong sepatu untuk ajudan dan stafnya, Rp 6 juta.
Perajin di Kampung Sepatu awalnya berdiri dan melakukan usaha sendiri dengan kerja keras. Saat ini, Kampung Sepatu diminta melakukan pertukatan pengusaha muda di Maluku.
Sekitar 1989, Abah Johan merintis bersama istrinya Lilik dengan modal Rp 3 juta. Mulai membuat sol sendiri, menjahit, sampai finishing sendiri. Kini usaha Abah Johan sudah berkembang dan memiliki 16 pekerja.
Sukses Abah Johan kini menginspirasi warga lain. Apalagi kini pasar terus menyambut positif. Rata-rata para perajin sepatu mampu menghasilkan 10 pasang sepatu sehari. Pemkot Mojokerto pun kini mulai memperhatikan perajin dengan memberikan bantuan lunak dari Wali Kota Mojokerto Mas'ud Yunus.
Masing-masing perajin berhak atas pinjaman Rp 10 juta dan diangsur enam bulan. "Ini cukup membantu kami," ucap Sirojudin, perajin muda.
Para perajin kini masih mengimpikan stan untuk berjualan yang representif. Dengan kemampuan dan pengalaman yang telah diuji waktu, para perajin optimistis bisa merebut atau setidaknya ikut mewarnai pasar sepatu.
Selama ini, mereka memanfaatkan rumah sekaligus pabrik dan stan. "Kalau ada stan tersentral yang lebih reprsentatif akan membuat puas pembeli," kata Lilik.