Senin, 1 Juni 2026

Belajar pada Marmut Merah Jambu

Marmut merah jambu, memangnya ada? Ah apapun warnanya yang penting arti di balik marmut merah jambu itu sendiri.

Tayang:
Editor: Tri Hatma Ningsih
zoom-inlihat foto Belajar pada Marmut Merah Jambu
Dedi Tri Laksono

Oleh : Dedi Tri Laksono
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Univeritas negeri Malang
deditrilaksono @gmail.com

Sudah satu minggu film Marmut Merah Jambu yang disutradarai Raditya Dika bercokol di bioskop nasional, bahkan sempat menjadi trending tropic di media sosial. Film ini diangkat berdasarkan novel yang ditulis sang sutradara, Raditya Dika, dengan judul yang sama. Jangan salah, Marmut Merah Jambu ini bukan berkisah tentang cinta anak-anak muda yang bikin jengkel dan menggemaskan, namun tentang banyak hal seperti persahabatan, budaya dan multikulturalisme.

Film ini juga banyak menyodorkan nilai-nilai moral dan sentilan-sentilan nakal yang sesuai dengan kehidupan masyarakat saat ini. Seperti saat Dika kecil yang dinasehati guru olahraganya bahwa saat ini jika bukan siapa-siapa, tidak akan pernah jadi apa-apa. Memang tak selalu benar, namun kalimat ini seusai dengan alur cerita yang diangkat film ini. Dika kecil dan Bertus kecil, sepasang sahabat yang sama-sama tak mempunyai kekasih. Mereka mencoba mencari kekasih dengan cara menelepon satu-satu semua gadis di SMA mereka, namun para gadis menolaknya.

Mereka memang bukan siapa-siapa, dan mereka tidak punya keahlian apa-apa. Mereka putus asa, namun mereka mencoba berkaca pada kapten basket sekolah mereka yang bernama Michael. Kebanyakan orang-orang populer di sekolah mereka khususnya para ketua ekstrakurikuler sangat digandrungi gadis-gadis di sekolah mereka.

Dari sanalah mereka mempunyai ide untuk membuat ekstrakurikuler
detektif. Melihat pergerakan ekskul detektif bagus, salah satu murid bernama Cindy tertarik bergabung. Cindylah satu-satunya anggota yang paling pintar dan cekatan menyelesaikan masalah. Bermacam kasus mampu mereka pecahkan, namun ada satu kasus yang tak bisa mereka pecahkan yakni kasus ancaman pembunuhan Kepala Sekolah yang ditulis ditembok sekolah menggunakan graffiti.

Dika kecil mencurigai Michael pelakunya, namun dugaan ini diajukan
sebagai rasa kesal dan cemburu akibat Michael ternyata sedang mendekati gadis yang dicintai Dika bernama Ina. Cindy dan Bertus marah, sebab ternyata apa yang dilakukan mereka selama ini dimanfaatkan Dika untuk mendekati Ina. Persahabatan mereka retak, satu sama lain mencoba acuh. Namun akhirnya, mereka menyadari bahwa persahabatan yang begitu erat tidak boleh retak hanya karena keegoisan masing-masing.

Film ini mampu membawa emosi penonton sampai akhir cerita yang
mengisahkan tentang Dika, Ina, Cindy, Michael dan Bertus dewasa. Dika
mencoba menghubungi Bertus kembali untuk pergi ke sekolah mereka.
Akhirnya mereka menyadari, mengapa teka-teki ancaman pembunuhan itu tidak pernah terselesaikan. Sebenarnya, graffiti tersebut dibuat oleh
Cindy dengan bentuk marmut merah jambu. Itu adalah tanda cinta dari
Cindy untuk Dika. Mereka semua dipertemukan di acara pernikahan Ina,
dan mengisahkan bagaimana arti marmut merah jambu untuk Dika dan
Cindy.

Salah satu kalimat di film ini yang sangat menarik untuk digarisbawahi, "Cinta itu seperti marmut merah jambu yang berlari di dalam lingkaran satu roda, terus berlari, tetapi nyatanya si marmot merah jambu itu tidak kemana-mana."

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved