Kamis, 28 Mei 2026

Main Bekel, Cinka Terkenang Masa SMP

Main game di gadget pun cuma bisa sendirian, yang secara tak langsung membuat anak-anak jadi individualistis.

Tayang:
Penulis: Irwan Syairwan | Editor: Wahjoe Harjanto

SURYA Online, SIDOARJO – Berlian Cinka Gogani (17) masih ingat ketika terakhir bermain bekel bersama sepupunya dua tahun lalu. Tidak hanya bermain bekel, siswi kelas XI SMUN 1 Waru (SMANTARU), Sidoarjo, ini juga senang bermain dakon, gobak sodor, petak umpet, dan lainnya saat masih SMP.

Ketika sekolahnya menggelar acara Traditional Day: The Rise of Woman Emancipation, di mana digelar lomba-lomba dolanan, siswi yang biasa disapa Cika ini seperti kembali ke masa lalu.

“Sayang, saya masuk panitia, jadinya tak bisa ikut lomba. Kalau ikut, pasti saya menang,” kata Cika, Sabtu (26/4/2014).

Di sela-sela persiapan final lomba bekel, Cika tak bisa menahan diri dan bermain bekel sendiri. Memakai baju Bodo khas Makassar posisi bersila, Cika asyik melempar bola karet dan mengambil biji-biji bekel dengan cekatan. Cika menuturkan, ibunya belum membolehkannya memiliki gadget canggih.

“Saya pernah punya i-Pad waktu SMP tapi nilai langsung drop. Buat mengisi jenuh, saya ya main bekel, dakon atau gobak sodor sama sepupu dan tetangga. Saya tidak pernah lupa kok dolanan ini,” sambungnya.

Suasana di SMANTARU mendadak seperti parade pakaian daerah. Semua murid dan guru memakai pakaian adat lengkap yang beragam. Di tiap sisi ada saja siswa yang berfoto ria. “Mumpung lagi pakai pakaian adat yang unik, kesempatan buat selfie,” tandas Nurul Magfirah (17).

Nurul yang juga ketua panitia cara ini mengatakan, tiap anak berkomitmen mengenakan pakaian adat lengkap sampai acara selesai. Dijelaskan, acara ini sebagai sarana pemahaman dan menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya Nusantara.

“Karena bertepatan dengan Hari Kartini, makanya temanya tentang perempuan. Tahun lalu kami adakan bulan Mei. Ini sudah kali kedua dilakukan dan semuanya berpartisipasi dengan totalitas,” ujarnya.

Selain lomba dolanan tradisi, lanjutnya, juga ada pemilihan Guk-Yuk sekolah, masing-masing kelas mengirimkan satu pasangan perwakilan Guk-Yuk yang nantinya menjadi duta sekolah yang akan diikutkan Guk-Yuk Sidoarjo.

“Tesnya pun juga mengikuti standar pemilihan Guk-Yuk, terutama tes wawancara yang menggunakan Bahasa Inggris dan Jawa Krama. Kalau tahun lalu cuma untuk duta sekolah saja,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMANTARU, Eko Redjo Sunariyanto, menambahkan, acara ini untuk menanamkan pendidikan karakter cinta tanah air kepada siswanya. Eko menuturkan, perkembangan gadget membuat anak-anak lebih senang tenggelam di balik layarnya ketimbang beraktivitas motorik.

“Main game di gadget pun cuma bisa sendirian, yang secara tak langsung membuat anak-anak jadi individualistis. Tapi permainan tradisional kita mengajarkan kebersamaan, kerjasama, dan kreatifitas,” tukas Eko.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved