Kamis, 23 April 2026

Sinta Santoso, Ratu Tempe di Australia

"Saya juga menciptakan tempe dengan berbagai rasa agar lebih disukai dan sesuai citra rasa lokal disini."

Editor: Satwika Rumeksa

SURYA Online, MELBOURNE-Bagi warga Indonesia, siapa yang tidak mengenal makanan tempe? Makanan khas Indonesia ini ternyata sudah sudah mendunia, dengan keberadaannya di sejumlah negara, termasuk Australia. Lantas bagaimana proses pembuatan tempe di luar negeri?

Sebuah bangunan mungil di kawasan Mulgrave, sekitar 30 menit dari pusat kota Melbourne terlihat sepi dari luar.

Padahal, sudah sejak matahari terbit, Sinta Santoso beserta suami dan tiga pekerjanya mencuci kacang kedelai.

Sinta sudah menekuni bisnis tempenya sejak tahun 2005. Pensiunan dari industri supermarket dan ritel yang memiliki gelar di bidang sains makanan ini mengaku alasan memilih bisnis tempe karena citranya yang buruk.

"Saya masih ingat, saat itu warga Australia tidak suka makan tempe. Tempe adalah makanan hasil fermentasi. Seperti halnya makanan hasil fermentasi dari negara lainnya, memiliki bau dan rasa yang kurang sedap," ujar Sinta.

Saat pertama kali pindah ke Australia lebih dari 20 tahun lalu, Sinta yang berasal dari Malang ini memang memiliki pengetahuan soal pembuatan tempe. "Saya pernah membuka restoran di Melbourne, tapi kemudia tergerak untuk membuat tempe saja, sekalian memperbaiki citra tempe.  Tempe yang proses pembuatannya benar akan menghasilkan rasa yang lebih baik," katanya.

Di Melbourne, tempe buatan Sinta yang diberi nama Prima Soy ini adalah satu-satunya tempe organik. "Nih lihat saja, kedelai-kedelai saya ini organik yang bersertifikat," jelasnya. "Dengan produk organik ini, saya membidik pasar yang lebih berkelas, dalam artian memang orang-orang yang lebih peduli soal kesehatannya."

Prima Soy memang tidak dijual di supermarket biasa, melainkan di supermarket yang khusus menjual produk organik. "Industri organik ini memang masih kecil, hanya orang tertentu, tapi semakin berkembang," jelasnya.

Proses pembuatan tempe di Australia memanglah tidak sama dengan di dalam negeri. Terlebih karena faktor cuaca yang cenderung dingin dengan intensitas matahari yang rendah. Tapi Sinta memiliki kreativitas untuk menemukan solusinya.

"Setelah dicuci, kemudian digiling dengan mesin yang kami impor dari Indonesia," jelasnya. "Tapi kami tidak menggunakan tungku, melainkan steamer (pengukus elektronik)."

"Karena tidak ada matahari, maka untuk proses selanjutnya, yakni pengeringan yang menggunakan dryer (mesin pengering yang biasanya digunakan untuk pakaian. Dan saya pun memiliki inkubator khusus untuk membuat ragi. "

"Memang pembuatannya lebih rumit tapi saya tetap tidak mau menjadikan produk saya masal di pasaran. Saya ini merasa lebih artisan, semua dibuat dengan tangan kami sendiri," ungkapnya.  Menurutnya dengan proses pembuatan ini, Sinta mengakui kalau produknya lebih tahan lama.

Menjadi inovatif dan kreatif memang menjadi dua di antara banyak kunci kesuksesan Sinta dalam menjalankan bisnis tempenya.

"Saya juga menciptakan tempe dengan berbagai rasa agar lebih disukai dan sesuai citra rasa lokal disini."

Selain tempe biasa, Prima Soy juga tersedia dalam rasa pedan, asam manis ala Meksiko, tempe bacem, dan lainnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved