Breaking News
29 Pesepeda Hilang di Hutan Jemplang
Sekitar tiga jam kami menyisir dan langsung ketemu. Mereka sempat makan logistik yang kami bawa, sebelum kembali meneruskan perjalanan
Penulis: David Yohanes | Editor: Wahjoe Harjanto
SURYA Online, MALANG - Enam orang dengan seragam sepeda melingkari perapian di sebuah warung di dekat pos Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Jemplang, Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Selasa (17/3/2014). Wajah mereka terlihat masih syok usai semalam hilang di tengah hutan Taman Nasional.
Mereka adalah bagian dari 29 orang anggota klub sepeda gunung Sobo Wono Malang (SWM) yang baru dievakusi tim SAR. Beberapa orang mulai bergurau tentang pengalaman yang sangat berbahaya tersebut. “Ini pembelajaran berharga bagi kami,” ucap Sunardi (52), pembina SWM yang juga ada dalam rombongan.
Sunardi bercerita, klub ini setiap bulan memang ada pertemuan rutin dan mengagendakan “ngalas” (meyusuri hutan). Hampir semua wilayah hutan di Malang sudah pernah dijajal oleh klub penggemar sepeda gunung ini. Seperti menjelajah Gunung Kelud, seminggu sebelum leletus.
Merasa sudah kenyang pengalaman petualang, SWM mencoba mencari tantangan baru. Mereka kemudian sepakat menyusuri area taman nasional, start dari Posko Jemplang. Rute tersebut adalah rute baru yang belum pernah dilalui sama sekali.
Sunardi mengungkapkan, pembuatan rute tersebut berdasar gambar yang ada di google maps. Tim membedakan rute menjadi rute biru yang biasa dilalui orang dan rute merah yang belum pernah dilalui. “Kami memili rute merah, karena ingin membuat tantangan baru. Berdasarkan perhitungan kami lewat google map rute tersebut bisa tembus di Taji, Kecamatan Tumpang,” terang Sunardi.
Setelah disepakati, Sabtu (15/3/2014) malam, rombongan berangkat dengan mobil dari Arjosari, Kota Malang. Mereka kemudian turun di Pos Jemplang, lengkap dengan sepeda dan peralatan gowes mereka. Minggu (16/3/2014), pukul 06.00 WIB, rombongan mulai menuruni gunung, membelah hutan dengan rute yang sama sekali belum dikuasai.
Dari perhitungan Sunardi, sekitar pukul 08.00 WIB, rombongan sudah masuk rute merah. Namun lama kelamaan rute tersebut terlalu berat untuk dilalui sepeda. Selain terjal, kanan dan kiri berupa jurang yang menganga. Namun rombongan masih meneruskan perjalanan dengan menggotong sepeda mereka.
“Jadi konsep gowes sudah tidak ketemu karena kami kebanyakan menggotong
sepeda kami,” ujarnya.
Hingga menjelang Maghrib, rombongan sudah sampai di ujung rute tersebut. Namun bukannya jalan tembus ke Taji, Kecamatan Tumpang seperti yang mereka perkirakan. Mereka justru berhadapan dengan jurang .
Kabut pun mulai turun, sementara perbekalan mereka sudah habis. Untuk kembali ke rute awal dianggap tidak mungkin karena stamina mereka sudah drop. Satu-satunya pilihan hanya bertahan di lokasi, sambil berusaha mencari bantuan.
Beruntung ketika itu masih ada sinyal seluler, meski sangat lemah. Dengan sabar Sunardi berusaha mengirimkan pesan kepada rekan mereka. Lengkap dengan posisi terakhir, berdasar petunjuk Global Positioning System (GPS) yang ada di ponsel “Sinyalnya kadang dapat, kadang hilang. Tapi kami akhirnya bisa kirim SMS minta bantuan kepada teman kami,” katanya.
Malam itu, 29 anggota SWM harus bermalam di tengah udara dingin hutan. Apalagi mereka hanya mengenakan pakaian bersepeda yang sangat minim. Untuk mengalahkan dinginnya udara, mereka mengumpulkan semua ban serep.
Satu per satu ban tersebut mereka bakar, di tambah beberapa kayu kering yang bisa mereka dapatkan. Sunardi berkisah, di tengah sergapan hawa dingin, malam itu rasanya mereka berada di antara hidup dan mati. “Setiap kali melihat ke langit, yang ada hanya gambaran kematian saja,” kisahnya.
Senin (17/3/2014), pukul 05.00 WIB, rombongan memutuskan bergerak kembali ke rute awal. Namun mereka meninggalkan semua sepeda dan peralatan yang dianggap memberatkan. Dengan sisa-sisa tenaga, mereka berjalan kaki di tengah hutan pegunungan yang menanjak.
Sekitar pukul 10.00 WIB, barulah tim SAR gabungan menemukan mereka. Saat itu tim yang terdiri dari SAR Mahameru, SAR Trenggana dan FKPPI yang membawa bekal makanan dan minuman yang cukup untuk rombongan. Usai memulihkan tenaga, rombongan melanjutkan perjalanan hingga kembali ke Posko Jemplang.