Monika Retno Dosen Poltek Pel Surabaya

10 Menit Menegangkan Pengalaman Berharga

Menjadi ABK kapal merupakan pengalaman wajib yang harus dijalani sebagai lulusan sekolah pelayaran. Monika mengaku punya pengalaman menegangkan.

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Parmin
zoom-inlihat foto 10 Menit Menegangkan Pengalaman Berharga
Monika Retno

SURYA Online, SURABAYA - Ketika ditemui di sela kegiatannya sebagai dosen atau instruktur di Politeknik Pelayaran Surabaya (Poltek Pel), Monika Retno tampil cantik dengan pakaian dinas dan jilbabnya. Tapi ketika diminta bercerita tentang perjalanannya sebagai alumnus sekolah pelayaran, wanita asal Wonosobo, Jawa Tengah, ini mengaku pernah tampil jauh berbeda dari yang tampak saat ini.

“Usai lulus pendidikan, saya diklat jadi ABK (Anak Buah Kapal) di sebuah kapal tanker. Tugasnya mengurusi mesin, karena jurusan saya yang di teknik mesin, menjadi satu-satunya di antara 110 rekan saya sejurusan dan angkatan pertama yang meluluskan taruna perempuan dari jurusan ini,” ungkap Monika.

Menjadi ABK kapal merupakan pengalaman wajib yang harus dijalani sebagai lulusan sekolah pelayaran. Monika mengaku punya pengalaman menegangkan dalam profesinya saat itu. Yaitu kapal yang diawakinya mengalami black out atau mati mesin di tengah perairan Singapura.

Tugasnya sebagai perwira mesin, harus melakukan perbaikan secepatnya. Karena di perairan Singapura itu sangat padat lalu lintas kapalnya. Sementara tidak ada jalur atau rambu-rambu yang bisa dipasang untuk menjaga agar kapal aman tidak tertabrak. Apalagi macetnya mesin kapal bukan berarti kapal bisa berhenti bergerak seperti mobil atau moda transportasi di darat lainnya, tapi kapal akan terus bergerak mengikuti arus air.

“Ini yang membuat saya mengalami ketakutan. Mesin mati selama 10 menit dan selama itu pula saya harus segera melakukan perbaikan agar mesin kapal segera hidup. Ruang mesin yang ada di garis bawah permukaan laut membuat saya lumayan ketakutan dan ketar-ketir,” cerita Monika.

Namun, wanita yang kini telah menjadi ibu dari dua anak ini akhirnya berhasil memperbaiki mesin itu hingga berhasil hidup dan berlayar lagi. Menurutnya pengalaman 10 menit itu menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Meski punya pengalaman seperti itu, tidak membuat wanita ini merasa salah dalam menekuni pendidikan teknik mesin saat belajar di akademi pelayaran.

“Hasilnya saya pun bisa kembali ke darat. Usai mengikuti diklat di kapal tanker, lulus daya sempat dua tahun di kapal penumpang swasta. Kemudian di galangan kapal dan saat ada pendaftaran PNS di lingkungan Kementerian Perhubungan saya daftar dan masuk. Sekarang jadi instruktur (dosen) di sini,” cerita Monika.

Di dunia pendidik pelayaran, hasil pendidikan dan pengalamannya itupun dibagi dengan para siswa yang diajarnya. Monika juga menjadi instruktur teknik mesin yang langka. Dengan mengajarkan mata pelajaran sistem kontrol dan permesinan kapal, untuk siswa Tenik Mesin dan Nautika, di Indonesia hanya ada dua instruktur perempuan.

“Mungkin karena jarang atau langka perempuan ada yang bergerak di bidang mesin. Karena berurusan dengan mesin, berarti harus kotor-kotor, jauh dari bersih. Tapi saya bangga sudah bisa dan mampu menjalaninya,” tandas Monika.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved