Mercedes Benz Boxer Club Surabaya
Satu Hobi, Satu Keluarga
Mercedes Benz Boxer Club Surabaya, Satu Hobi, Satu Keluarga
Penulis: Marta Nurfaidah | Editor: Parmin
SURYA Online, SURABAYA – Daimler AG, perusahaan otomotif dari Jerman, ketika mendesain mobil Mercedes Benz hanya berpikir satu yaitu memproduksi mobil kelas tinggi yang nyaman dikendarai. Perhitungan kekuatan mesin, desain kerangka, dan bahan pilihan untuk interior mobil sangat tepat.
Tak disangka, penggemar mobil ini bermunculan dari berbagai negara. Indonesia menjadi bagian dari negara tujuan pangsa pasar mobil yang biasa disebut Mercy ini. Mercy Boxer (W124) sendiri merupakan unit yang paling lama dibuat oleh Daimler AG selama 1986 hingga 1996. Sehingga, sebutan masterpiece itu muncul.
Sebagai wadah orang-orang pemilik Mercy Boxer, komunitas ini termasuk dalam Mercedes Benz Club Indonesia (MBCI) Surabaya Chapter. Agenda touring dan bakti sosial sering diadakan seperti baru-baru ini, Charity Tour Blitar (CTB) pada 1 hingga 2 Juni 2013. Acara ini bukan sekadar touring, tetapi juga gathering bersama keluarga anggota, sekaligus berbakti sosial. Dengan sasaran ke Panti Asuhan Insan Madani, Kecamatan Selopuro, Blitar.
“Klub kami ingin berbagi dengan masyarakat dengan membagikan sembako, pakaian, dan uang tunai sejumlah Rp 6 juta,” kata Bayu Satria, Ketua Panitia CTB, Sabtu (15/6).
Sebanyak 42 unit mobil Mercy Boxer mengikuti program ini dan terbagi menjadi tiga kelompok. Mereka berangkat dari rest area di tol Sidoarjo Resto pada Sabtu (1/6/2013) pagi, kemudian menuju Kota Malang. Selanjutnya mereka menuju Karang Kates. Begitu tiba di Blitar, mereka mengunjungi Istana Gebang kediaman Bung Karno. Dan malamnya mereka menggelar acara charity bersama bupati Blitar.
Selain bertujuan untuk memperkenalkan pariwisata Jawa Timur, acara ini juga menerapkan safety driving untuk konvoi mobil. Yaitu dengan tetap bersikap sopan di jalan raya, mematuhi rambu lalu lintas, serta tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.
“Program safety riding ini disebarkan secara luas kepada masyarakat bekerjasama dengan Ditlantas Polda Jatim,” papar Bayu.
Foto Pre Wedding Bersama Komunitas
Mercy Boxer atau W124 merupakan tipe sempurna di line mercy. “Walaupun produk lama, tetapi kalau naik Boxer bakal terlihat keren. Sebab, orang-orang kaya zaman dulu banyak yang mengendarai jenis mobil ini,” tutur Bayu yang memiliki tiga unit Mercy Boxer.
Bayu sendiri sudah enam tahun ini mengendarai mobil mercy dan memiliki tiga unit mercy boxer. “Dari segi keamanan bagus dan spare parts asli yang brand new masih banyak dijumpai,” ungkapnya. Meskipun produk yang KW juga ada.
Kestabilan mobil ini ketika dikendarai dirasakan juga oleh istri Bayu, Lidya Francillya (32). “Duduk lama mengemudi jadi terasa tidak capek,” ucapnya.
Saking cintanya dengan klub ini, foto pre wedding-nya dibuat ketika touring ke Wonorejo, Tulungagung. “Mereka seperti keluarga sekaligus teman bagi saya. Sebab, saat datang pertama kali ke Surabaya, saya tidak mempunyai kenalan,” tutur perempuan asal Jakarta ini.
Varian mobil ini pun bisa dibeli dengan memesan spesifikasi tertentu. Misalnya memakai jok elektrik atau ada kelengkapan sunroof. Seperti yang dimiliki Erwin Andriananto, Bendahara Mercedes Benz Boxer Club Surabaya Chapter, yang mengendarai Mercy Boxer keluaran 1993
“Boxer saya tipe 6 silinder 24 valve yang berkapasitas mesin 3.000 cc,” tutur Erwin. Sejauh ini mobil kesayangannya ini termasuk irit, walaupun itu juga tergantung dari cara mengemudinya.
Saat ini, anggota komunitas berjumlah 154 orang. Dan secara keseluruhan di Indonesia anggota MBCI mencapai 1.300 orang. Diantaranya tersebar di Surabaya, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Medan, Malang, Bogor, dan Solo.
Jelajah Kota karena Suka
Komunitas mobil tidak selalu identik dengan para pengemudi lelakinya. Erna Sulistyorini (47) merupakan satu di antara perempuan yang gemar mengendarai mobil. Erna sendiri sudah bergabung dengan MBCI Surabaya Chapter sejak 2009.
“Memang biasa mengemudikan mobil sendiri,” ucapnya kalem. Dia pernah ikut touring ke berbagai kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali.
Sedangkan suaminya, Hariyadi, bertindak sebagai partner yang setia memberi informasi seputar lalu lintas. Seperti kendaraan atau halangan apa saja yang ada di sisi belakang atau sisi kanan kiri mobil. Serta menjadi penasihat di MBCI 05 atau Surabaya Chapter.
Mantan karyawan bank swasta ini sekarang menekuni kesibukan di bidang wiraswasta. Bergabung dengan komunitas ini telah menambah wawasannya. Terutama ketika melalui rute yang menantang. Ketika ke Blitar beberapa waktu lalu, ada kabut di area Gunung Kelud. Nah, Erna banyak belajar dari kondisi itu bersama teman-teman satu komunitas.