Modal Cekak Jadi Kades
Meski termasuk keluarga tidak mampu, kemampuan Fadli dalam memimpin pemerintahan desa dirasa mumpuni
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Satwika Rumeksa
Namun uang pendaftaran itupun bukanlah uang pribadinya, tetapi sumbangan dari warga desa itu. "Ada yang nyumbang Rp 100 ribu, Rp 400 ribu dan yang paling banyak Rp 10 juta," ujar Fadli, Jumat (17/5/2013).
Kepala Urusan Keuangan Desa Sempolan itu memang bukan orang kaya. Bahkan karena masuk kategori wrga kurang mampu, ia masuk sebagai penerima Jamkesmas.
Meski sudah puluhan tahun mengabdi sebagai perangkat desa, ia tidka berniat menjadi seorang kepala desa. Namun dorongan dan dukungan ternyata mengalir, baik dari warga desa setempat maupun dari teman-teman Fadli di luar desa itu.
"Akhirnya saya mencalonkan diri, uang pendaftaran ya itu hasil sumbangan warga," lanjutnya.
Dalam Pilkades kemarin, ia bersaing melawan Titin Priastiningsih, istri kepala desa setempat. Ketika masa kampanye mulai, Fadli sebenarnya tidak mau menyusun tim sukses.
Sekali lagi, dorongan dari orang-orang di sekitarnya, akhirnya tim sukses dibentuk. "awalnya Pak Fadli tidak mau, tetapi karena kami yakinkan tidak akan ada biaya, maka dia mau dan kami bergerak," ujar tim pemenangan Fadli, Hadi Prayitno.
Meski termasuk keluarga tidak mampu, kemampuan Fadli dalam memimpin pemerintahan desa dirasa mumpuni. Sebab ia sudah berpengalaman bertahun-tahun menjadi perangkat desa. Apalagi, ia juga mendapat dukungan dari warga setempat.
"Dari pengalaman hidup saya sendiri, yang memang miskin, saya ingin bisa menyejahterakan warga Sempolan," imbuh Fadli
Pencoblosan di Desa Sempolan digelar, Kamis (16/5/2013). Dari jumlah total daftar pemilih tetap mencapai 6.700 jiwa, ia mendapatkan 3.200 suara. Sementara pesaingnya hanya mendapatkan 1.200 suara