Gresik Lahan Strategis Investasi Asing
Cargill Bangun Pabrik Penuhi Kebutuhan Asia
Nilai investasi tersebut, bila dirupiahkan maka jumlahnya setara dengan kira-kira Rp 1,2 triliun
Penulis: Eben Haezer Panca | Editor: Satwika Rumeksa
Keputusan perusahaan yang didirikan oleh William Wallace Cargill pada tahun 1865 itu, menjadi keberuntungan tersendiri bagi Jawa Timur. Sebab pabrik bernilai investasi 120 juta dolar AS itu dibangun di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Nilai investasi tersebut, bila dirupiahkan maka jumlahnya setara dengan kira-kira Rp 1,2 triliun. Bertempat di Kawasan Industri Maspion (KIM) V, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, prosesi peletakan batu pertama pabrik tersebut dilaksanakan Selasa (7/5/2013). Untuk operasionalnya, pabrik tersebut diharapkan bisa dimulai pada triwulan kedua tahun 2014.
“Ini pabrik pertama kami di Indonesia sekaligus di Asia. Sebelumnya kami memiliki pabrik pengolahan kakao di Netherland (Belanda),” kata Presiden Cargill Cocoa and Chocolate, Jos De Loor di sela-sela prosesi peletakan batu pertama.
“Sebelum memutuskan untuk memilih Gresik, kami memang sempat melakukan survey ke beberapa negara dan akhirnya pilihan memang jatuh di sini,” tambahnya.
Pabrik tersebut akan membutuhkan sekitar 200 tenaga kerja langsung untuk operasional pabrik, yang rencananya diambil dari warga kecamatan Manyar. Selain itu, pabrik juga akan membutuhkan sekitar 70.000 metrik ton biji kakao yang dibeli dari para petani di Makassar dan Palu. Dua tempat tersebut merupakan pusat penghasil kakao terbesar di Indonesia.
Setelah diproses di pabrik, nantinya hasil-hasil olahan biji kakao seperti cokelat bubuk, cokelat cair, serta lemak kakao (butter), dan bubuk premium kakao Gerkens, akan dipasok ke industri-industri hilir pengolah cokelat di seluruh kawasan Asia.
Dipilihnya Gresik sebagai lokasi pembangunan pabrik bukannya tanpa alasan. Dalam pandangan Cargill, Gresik memiliki potensi yang luar biasa untuk berinvestasi. Yang jelas terlihat ialah bahwa kabupaten ini berada di lokasi yang strategis yang memungkinkan biaya distribusi produk bisa ditekan. Selain dekat dengan pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, Pemerintah Kabupaten Gresik sendiri juga berencana membangun pelabuhan internasional sendiri.
“Meski Jawa Timur bukan penghasil kakao, tapi bahan baku dari Sulawesi akan dibawa kemari untuk diolah. Selanjutnya dari sini hasil olahan biji kakao akan dipasarkan ke seluruh Asia yang permintaannya sangat tinggi,” paparnya.
Direktur Pengembangan Fasilitasi Industri Wilayah Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawiryawan mengatakan, sangatlah lumrah apabila saat ini investor-investor asing yang hendak menanamkan modalnya di Indonesia, lebih melirik kawasan Jawa Timur, terutama Gresik. Hal ini mengingat tingkat kepadatan industri di kawasan DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat yang mendorong meroketnya harga lahan.
“Untuk membangun industri, lahan adalah faktor yang paling penting karena berpengaruh terhadap kualitas, biaya, dan distribusi,” ucap Putu