Jumat, 15 Mei 2026

Polo Lumpur Ala Anak Ledokombo

"Memang pelajarannya dibuat menyenangkan agar anak-anak senang," ujar seorang pendamping Tanoker, Emawati.

Tayang:
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Satwika Rumeksa
zoom-inlihat foto Polo Lumpur Ala Anak Ledokombo
surya/srim wahyunik
Permainan polo lumpur yang dimainkan anak-anak Tanoker bersama sejumlah mahasiswa Universitas Jember di persawahan Desa Sumberlesung Kecamatan Ledokombo, Minggu (3/3/2013).

SURYA Online, JEMBER - Jika permainan polo air dimainkan di air atau kolam renang, maka tidak dengan permainan polo yang ada di Desa Sumberlesung Kecamatan Ledokombo. Polo yang dimainkan anak-anak Tanoker Ledokombo dan sahabatnya ini disebut permainan polo lumpur.

Ya, disebut polo lumpur karena dimainkan di lumpur yang diairi. Arenanya juga bukan kolam renang, tetapi di sawah yang dialiri air. Sebuah petak sawah sengaja tidak ditanami komoditas apapun, meskipun di sekitarnya tanaman padi nampak menghijau. Sawah itu dialiri air dari pipa yang disambung ke saluran irigasi. Bagian bawah kolam lumpur itu juga dilubangi agar air tetap bisa mengalir ke sawah di bawahnya.

Karena bermain di kolam lumpur, walhasil, jika bermain polo lumpur, tubuh dan baju belepotan lumpur.  Apakah permainan ini membuat anak-anak ceria?

"Senang. Senang sama permainan ini. Bisa main air, lumpur dan bola," ujar Dani, seorang anak Tanoker Ledokombo. Bahkan bocah kelas 2 SD ini rela jauh-jauh ngojek dari rumahnya di Desa Sumberbulus Kecamatan Ledokombo ke arena permainan polo lumpur. Ia keluar uang Rp 6.000 untuk pulang pergi naik ojek.

Tetapi bocah yang satu ini tidak mau ketinggalan mengikuti permainan yang baru-baru saja digelar oleh Tanoker itu. Ia setiap hari minggu datang ke kebun Tanoker untuk belajar dan mengikuti acara Minggu Ceria. Tetapi sejak Januari lalu, ada permainan baru yang selalu ia nanti yakni polo lumpur.

"Nggak apa-apa keluar uang untuk ngojek, senang dan belajar banyak," ujar bocah yang jago main Egrang itu sambil melahap kue apem usai bermain polo lumpur.

Putra dan Ikke, juga riang gembira mengikuti permainan itu. Putra bahkan paling akhir sendiri keluar dari kolam lumpur karena keasyikan main polo lumpur. Ia berkali-kali ikut tim yang berbeda. Bahkan, saat permainan oleh tim putra pertama digelar, bocah mungil itu harus disuruh keluar karena anggota tim sudah kebanyakan.

Usai dua tim putra bertanding, tim putri juga bertanding. Ikke bersama Anak-anak perempuan Tanoker tidak kalah gesit dengan tim putra. Sejumlah mahasiswi Universitas Jember ikut bertanding bersama tim putri Tanoker.

Permainan polo lumpur ini memang baru ketiga kalinya ini digelar. Acara ini akan digelar di hari minggu setiap akhir bulan. Awalnya, permainan ini dibuat untuk sebuah syuting acara televisi.

"Ternyata respons-nya anak-anak bagus bahkan minta agar ada permainan itu lagi," ujar pembina Tanoker, Farha Ciciek kepada Surya, Minggu (3/3/2013).

Permainan itu digagas Tanoker Ledokombo. Kini permainan itu menjadi
salah satu alternatif permainan baru, selain Egrang, bakiak, Egrang
bathok juga lari dingklik.

Sebelum permainan polo lumpur digelar siang hari dimulai pukul 14.00 WIB, anak-anak Tanoker bermain outbond tentang permainan tradisional. Mereka juga diajari pelajaran yang ada di sekolah seperti Bahasa Inggris, Matematika, Fisika dan Fotografi.

Agar pelajaran yang diberikan tidak membuat mereka jenuh, pelajaran
diberikan secara berbeda dari apa yang diberikan di sekolah. Anak-anak diajak bermain dalam setiap pelajaran.

"Memang pelajarannya dibuat menyenangkan agar anak-anak senang," ujar seorang pendamping Tanoker, Emawati.

Pelajaran diberikan oleh mahasiswa Universitas Jember yang secara
sukarela berbagi ilmu kepada anak-anak tersebut. Mahasiswa itu antara lain tergabung dalam Unej Mengajar, Himpunan Mahasiswa Fisika FKIP Unej, English Student Association (ESA) FKIP Unej, juga anak-anak film dan fotografi Fakultas Sastra Unej.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved