Perempuan Cenderung Ogah Terjun Politik
Selama ini, Sri Danti melihat baru segelintir perempuan yang berani tampil di publik. Selebihnya mereka condong terjun ke dunia nonpublik
Penulis: Siti Yuliana | Editor: Satwika Rumeksa
Selama ini, Sri Danti melihat baru segelintir perempuan yang berani tampil di publik. Selebihnya mereka condong terjun ke dunia nonpublik. "Partisipasi perempuan di dunia politik baru 18,6 persen di tingkat nasional, sangat jauh dari harapan," kata Sri ketika menjadi pembicara dalam seminar perempuan di gedung Fisip UB Selasa (12/2/2013).
Jumlah satu sangat jauh dari ketentuan yang menyebutkan tingkat partisipasi perempuan di dunia politik minimal 30 persen. "Budaya Patriarki (mengedepankan laki-laki) masih belum hilang. Itu penyebabnya," jelasnya.
Untuk menghapus budaya tersebut, pihaknya tengah menjalin kerjasama dengan organisasi perempun dan perguruan tinggi. "Target kami minimal ada 30 persen perempuan yang terlibat politik di Pileg 2014 nanti," harapnya.
Sri Danti juga telah mendekati KPU untuk mendukung peran wanita. Di samping mendorong perempuan aktif di dunia publik, ia juga menyoroti perlindungan perempuan yang selama ini minim.
Para TKI misalnya, tidak mendapat jaminan perlindungan sehingga kerap menjadi korban penganiayaan. Dalam UU 39/2004 tentang penempatan perlindungan TKI, sebenarnya kementerian pemberdayaan perempuan dan anak sudah merusaha memasukkan poin-poin yang memihak perempuan terutama TKI, yaitu hak keadilan, hak perlindungan dan pendidikan.
Sementara itu, Prof Darsono Wisadirana mengakui apabila keterlibatan perempuan di dunia politik sangat rendah. Namun hal itu berbanding terbalik dengan keadaan perempuan di dunia akademisi. "Di sini (UB)sekitar 70 persen dosen adalah perempuan. Ini merupakan satu keberhasilan," tukasnya," terangnya.
Untuk mendorong keterlibatan perempuan, UB akan mengadakan pelatihan dan pembinaan secara kontinyu.