Nunggak Rp 24 Juta, RSUD Kanjuruhan Tahan Bayi
“Sebab matanya seperti tidak respons ketika diberi mainan,”
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Adi Agus Santoso
“Harusnya sudah bisa pulang Jumat (8/2/2013). Tapi meski belum bisa membayar, anak saya masih mendapat perawatan dan rangsum seperti biasanya,” tutur Irianto kepada Surya Online, Minggu (10/2/2013).
Irianto menceritakan asal kecelakaan yang menimpa istri dan anaknya pada 23 Januari 2013 lalu. Saat itu, Winarsih di dapur menggendong Erwin. Ia naik kursi plastik untuk menghidupkan tombol pompa airnya, tapi Winarsih jatuh terpeleset.
Winarsih sendiri tidak mengalami luka berarti, sebaliknya anaknya yang semula digendongnya mengalami masalah di kepalanya. Apalagi saat itu, Erwin sempat kejang. Setelah dilakukan CT Scan, ternyata ada pendarahan di otaknya.
Dari sebuah klinik swasta di Turen, Erwin dirujuk ke RSUD Kanjuruhan di Kepanjen. Karena kejadian itu, bayi kelahiran 31 Mei 2012 itu menjalani operasi 42 jahitan di kepala. Menurut Irianto, sopir bongkar muat yang berlokasi Janti, Kota Malang, untuk biaya operasinya saja sekitar Rp 18 juta. “Sejak awal saya sudah mengajukan keringanan biaya. Sebab saya memang benar-benar tidak punya uang sebesar itu,” tutur Irianto yang mengaku berpenghasilan Rp 1 juta.
Menurutnya, pihak RS memperbolehkan mereka pulang asal bisa meninggalkan uang Rp 10 juta dulu. Sisanya boleh diangsur, sesuai dengan hasil perundingan manajemen. Menurut Irianto, surat keterangan tidak mampu sudah diurus hingga kepala desa. Tapi ternyata surat seperti itu sudah tidak berlaku lagi. “Saya sendiri juga tidak masuk dalam Jamkesmas,” cerita Irianto yang menikah dengan Winarsih pada 2007 itu.
Saat ini, kondisi Erwin sendiri secara fisik nampak sehat. Masih doyan minum susunya. Tapi kini ada kekhawatiran lain. “Sebab matanya seperti tidak respons ketika diberi mainan,” kisah Winarsih yang berjualan soto di rumahnya.
Erwin juga disarankan untuk menjalani terapi pada kaki dan matanya di RSSA Malang.Sukarso, kakek Erwin yang tinggal Kecamatan Tajinan juga mengkhawatirkan kondisi cucunya. “Kondisi anak saya memang tidak punya. Kalaupun memaksakan mendapatkan uang harus berhutang, tapi tidak bisa banyak,” tutur Sukarso.
Dr Harry Hartanto, Direktur RSUD Kanjuruhan Kepanjen masih belum bisa dikonfirmasikan mengenai hal ini.