Rabu, 8 April 2026

Kunci Keberadaan Suprihatin Ada di Korban Pembunuhan

Oleh karenanya, dia hanya pasrah kepada Allah SWT tentang keberadaan dan kondisi anak ketiganya itu

Penulis: Sudarmawan | Editor: Satwika Rumeksa
zoom-inlihat foto Kunci Keberadaan Suprihatin Ada di Korban Pembunuhan
surya/sudarmawan
Murtini (50) warga Dusun Banaran, Desa Tegalombo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo menunjukkan foto Suprihatin (23) anak ketiganya yang hilang dan namanya mencuat sejak kasus pembunuhan bapak bunuh anak kandungnya, Minggu (10/2/2013).

SURYA Online, PONOROGO-Keluarga besar Suprihatin (23) warga Dusun Banaran, Desa Tegalombo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo terus menangis dan merasakan kesedihan yang mendalam. Pasalnya, anak ketiga pasangan suami istri, Sunarto (55) dan Murtini (50) ini, tidak pulang sejak 28 Januari 2013 lalu. Padahal, saat itu lulusan Bahasa Inggris, Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Ponorogo ini, hanya berpamitan akan membenahi laptop miliknya yang rusak ke wilayah Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo.

Kesedihan semakin dirasakan orangtua dan keluarga besarnya, manakala polisi belum memberikan kejelasan mengenai keberadaan calon guru bahasa Inggris itu. Ini menyusul, orangtua hanya mendapatkan informasi dari Polres Ponorogo, jika keberadaan Suprihatin kata kuncinya ada di tangan Krisnanda Mega Pratama (27) warga Desa Karanggebang, Kecamatan Jetis.

Padahal, Krisnanda sendiri sudah tewas karena menjadi korban pembunuhan ayah kandungnya sendiri, Eko Budianto (50) yang juga mantan Kades Karanggebang dibantu teman korban, Amru Nasruddin (26) teman akrab korban pada Rabu (6/2/2013) dini hari lalu yang jenazahnya dibuang di Sungai Keyang desa setempat.

Informasi yang diberikan polisi cukup beralasan. Pasalnya, dugaan sementara Suprihatin adalah kekasih Krisnanda Mega Pratama yang masih duduk dibangku semester IV, jurusan Teknik Informatika (TI), Unmuh Ponorogo. Ini menyusul, saat penyelidikan kasus pembunuhan Krisnanda itu, polisi mengamankan sebuah motor Honda bernopol AE 6313 SD dan sebuah Hand Phone (HP) milik Suprihatin.

Sedangkan motor itu, diambil Krisnanda di salah satu lokasi penitipan motor di sekitar Terminal Seloaji, Kabupaten Ponorogo sehari sebelum Krisnanda dibunuh ayah kandungnya itu.

Sambil meneteskan air mata, Murtini didampingi suaminya menceritakan jika anak bungsunya itu terakhir pamit membenahi laptop 28 Januari 2013 lalu. Setelah itu, keberadaannya tidak diketahui keluarga sama sekali.

Selain mencari informasi ke seluruh anggota keluarga di Ponorogo dan luar Jawa, juga sudah meminta bantuan paranormal di Ponorogo, Madiun, Magetan, dan Pacitan. Akan tetapi, tetap tidak membuahkan hasil, termasuk menanyakan ke Polres Ponorogo beberapa hari lalu.

"Anak saya itu pendiam. Sejak menghilang saya dan seluruh anggota keluarga besar mencari sampai ke orang pintar tetap belum menemukan tanda keberadaan anak perempuan saya itu," terangnya kepada Surya, Minggu (10/2/2013).

Yang membuat lebih sedih dan gundah keluarga Suprihatin, sejak adanya kasus pembunuhan yang menewaskan Krisnanda Mega Pratama, Suprihatin disebut-sebut sebagai pacar korban pembunuhan ayah kandung itu. Padahal, Suprihatin belum pernah menceritakan kepada keluarga atau orangtuanya jika memiliki kekasih bernama Krisnanda Mega Pratama, warga Desa Karanggebang, Kecamatan Jetis.

"Kami tak pernah dikenalkan teman anak saya Krisnanda itu. Tetapi, kami heran mengapa motor, STNK, serta HP anak saya ada di tangan korban pembunuhan itu," ungkapnya.

Kebuntuan informasi tentang keberadaan Suprihatin itu dibenarkan Boniran (45), paman Suprihatin yang sudah mengaku lelah mencari informasi tentang keberadaan keponakannya itu. Alasannya, pencarian hampir selama 2 pekan ini tak membuahkan hasil.

"Saudara, teman kuliah, dan kakak Suprihatin yang di Lampung sudah saya tanyai semua tak ada hasil termasuk orang pintar. Sementara, polisi sendiri mengaku masih belum ada informasi mengenai Suprihatin karena kunci keberadaan Suprihatin adalah korban pembunuhan yang berhasil membawa motor, STNK serta HP keponakan saya," imbuhnya.

Selain itu, Boniran mengaku merasa curiga ketika Suprihatin tidak pulang sehari semalam sejak awal kepergiannya memperbaiki laptop ke Jetis itu. Pasalnya, Suprihatin tidak meminta uang dari orang tuanya. Namun, saat itu keluarga menduga Suprihatin masih memiliki uang karena baru diberi kakaknya uang yang baru pulang dari Malaysia. Karena rasa curiga itu, akhirnya keluarga sepakat membagi tugas mencari Suprihatin dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan sampai ke penitipan motor di seluruh Ponorogo.

"Saat kami temukan motornya di penitipan motor di Terminal Seloaji kami tak bisa mengambilnya karena tak membawa nomor penitipan dan STNK. Yang membuat kami curiga, ada orang yang mengambil motor yang tak lain Krisnanda Mega Pratama itu," urainya.

Ungkapan Boniran dibenarkan kakak sulung Suprihatin, Heri Setyawan (32) yang ikut menemui Krisnanda di penitipan sepeda motor itu. Bahkan,  Heri sempat ikut membuntuti motor adiknya yang dibawa lelaki lain itu sampai ke salah satu rumah di Desa Karang Gebang yang tak lain rumah korban pembunuhan itu.

"Karena di rumah kami panik dan sedih, saya sampai membatalkan berangkat ke Malaysia lagi. Saya akan di rumah sampai adik saya ditemukan," paparnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved