Sabtu, 13 Juni 2026

Cara Unik Debu Nusantara Kolektif Mencintai Bahasa Ibu

Dalam menceritakan cerita rakyat tersebut, setiap anggota memang wajib menuturkan cerita rakyat dengan bahasa ibu.

Tayang:
Penulis: Siti Yuliana | Editor: Satwika Rumeksa
zoom-inlihat foto Cara Unik Debu Nusantara Kolektif Mencintai Bahasa Ibu
surya/nedy putra
Komunitas Debu Nusantara Kolektif
SURYA Online, MALANG- Debu Nusantara Kolektif, sebuah perkumpulan berbagai komunitas di Kota Malang memiliki cara unik melestarikan bahasa ibu (bahasa daerah).

Cara unik itu mereka wujudkan dengan berkumpul lalu bercerita tentang cerita rakyat daerah masing-masing menggunakan Bahasa Ibu yang dikemudian diceritakan kembali dalam Bahasa Indonesia. Pencerita adalah anggota Debu Nusantara kolektif sendiri.

Dalam menceritakan cerita rakyat tersebut, setiap anggota memang wajib menuturkan cerita rakyat dengan bahasa ibu. Seperti halnya yang dilakukan Lutfhi Maezakusuma. Mahasiswa IKIP Budi utomo itu bercerita mengenai pentingnya menjaga amanah orangtua. Menggunakan Bahasa Melayu Sambas Kalimantan Barat, Lutfhi dengan lancar menuturkan semua kisah rakyat berjudul 'Belah Batu Batangku' itu.

"Ini cerita tentang seorang keluarga yang terdiri dari ibu dan ketiga anak-nya. Anak yang tidak bisa menjaga amanah seorang ibu," ujar Lutfhi dalam lesehan di hutan Malabar, Minggu (10/2/2013).

Dalam ceritanya, seorang ibu yang sangat sederhana menemukan tiga butir telur. Tiga butir telur itu ia titipkan kepada salah satu anaknya untuk dimakan bersama. Sayangnya, ketika si ibu pulang bekerja mencari kayu bakar, sang anak malah memberikan telur- telur itu ke salah satu adiknya.

Akhirnya si ibu tidak kebagian dan kecewa karena sang anak tidak menjaga pesannya. "Ibu itu sangat kelaparan. Dia sedih kemudian berlari ke laut dan mengadukan kekecewaanya itu," cerita mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika semester enam ini.

Dalam kekecewaanya itu, si ibu mengadu agar alam memberikan hukuman kepada anaknya yang tidak menjaga pesannya itu. "Secara tiba-tiba doa si ibu dikabulkan. Si ibu lantas menjadi batu," ucapnya.

Berubahnya si ibu menjadi batu bukan karena si ibu telah durhaka kepada anak-anaknya. Namun sebagai pelajaran betapa pentingnya peran ibu dan anak seharusnya mendengarkan semua pesannya. "Agar anaknya menyesal dan tahu rasanya kehilangan seorang ibu. Itu pesan buat kita semua agar selalu berbakti dengan ibu kita," pesannya.

Setelah selesai bertutur dengan Bahasa Melayu Sambas, Lutfhi lantas menceritakan ulang menggunakan Bahasa Indonesia. Ia sedikit pun tidak merasa capek dan terpaksa. "Saya justru senang diberi kesempatan untuk berbagi cerita rakyat dari daerah Sambas, daerah asli saya dilahirkan," pungkasnya.

Selain Lutfhi dari Encompass komunitas, sebuah lembaga masyarakat yang konsen masalah pendidikan multiculture, juga ada komunitas seni rupa, akademisi, budayawan dan komunitas lainnya yang berjumlah sekitar 30 orang.

Sementara itu, Vania Marisca Wibisono, salah satu pendiri Debu Nusantara Kolektif menceritakan aktivitas organisasi di bawah naungannya itu. Vania memilih Bahasa ibu sebagai objek pembahasan karena ia begitu kagum dengan Bahasa Daerah.

"Jadi kami ingin melestarikanya (bahasa ibu) dengan cara bertutur menggunakan Bahasa Ibu. Ini akan mendorong kecintaan kita kepada produk budaya sendiri," terang mahasiswi S2 Jurusan linguistik Universitas Brawijaya ini.

Kegiatan bertutur Bahasa Ibu sudah dimulai sejak Juli 2012 lalu. Setiap dua minggu sekali, para anggota Debu Nusantara Kolektif akan saling bertemu di tempat-tempat tertentu setiap dua minggu sekali. "Minggu nantinya giliran mahasiswa dari Pinang dan Dayak yang bertugas menceritakan cerita-cerita rakyat, tidak perlu malu," tekannya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved