Sulap Enceng Gondok Dapat Rp 100 Juta
"Kami sering sekali mengikuti lomba, tapi baru kali ini kami menang," ungkap Agustin, ketua tim,
Penulis: Siti Yuliana | Editor: Adi Agus Santoso
Tim UB yang beranggotakan tujuh mahasiswa itu, berhasil mengalahkan sekitar 50 tim dari PTN/PTS se-Indonesia. Bahkan ada dua tim yang berasal dari universitas Tokyo dan Taiwan.
Ke tujuh mahasiswa pintar itu, adalah Agustin Capriati, Paundra Nurbaskoro, Vian Dedi Pratama, Nandarningtyas Laras Pratiwi, Faridz Rizal Fachri, Made Mahendra Jaya dan Meysella Anugrah. Mereka rata-rata mahasiswa semester semester lima.
Ketika diumumkan pada 16 Januari 2013 lalu, ke-tujuh mahasiswa itu benar-benar tidak menyangka papernya berjudul 'Water control Polution dengan limbah enceng gondok dan bakteri' bakal menjadi pemenang. "Kami sering sekali mengikuti lomba, tapi baru kali ini kami menang," ungkap Agustin, ketua tim, Senin (21/1/2013).
Atas kemenangannya itu, Agustin dan teman-temannya memperoleh hadiah senilai Rp 100 juta. Rincaiannya, Rp 75 juta untuk dana penelitian lanjutan, dan Rp 25 juta reward dari PT Oil Spill Combat Team.
Diceritakan Agustin, Ia dan ke-enam temanya memilih enceng gondok sebagai bahan penyerap limbah minyak karena keberadaanya sebagai gulma. Kandungan selulosa dalam enceng gondok sangat bermanfaat, untuk membebaskan air laut dari pencemaran minyak. "Tentunya kami campur dengan bakteri pseudomonas, yang berfungsi menetralisir zat-zat berbahaya dalam limbah minyak itu," jelas Agustin.
Paundra menambahkan, proses pengolahan enceng gondok menjadi kepingan penyerap limbah minyak (arang aktif) dibutuhkan waktu tiga hari. Enceng gondok terlebih dahulu dioven dengan suhu 400 derajat celcius, dan dicampur senyawa kimia. Setelah kering, jadilah kepingan arang yang mereka namakan arang aktif itu. "Perbandingan senyawa dan enceng gondoknya 1:3," jelas Paundra.
Penemuan mereka telah diujikan dalam laboratorium, dan hasilnya sangat efektif. "Kami akan melakukan penelitian selanjutnya, hingga menghasilkan produknya," pungkasnya.