BPCB Lakukan Penggalian Penyelamatan Totok Kerot
Petugas hanya menemukan fragmentaris berupa batu bata kuno yang sudah pecah.
Penulis: Cornelius Vrian | Editor: Satwika Rumeksa
Hal ini terkait dengan rencana pemerintah daerah setempat untuk melebarkan jalan di depan areal situs. Penggalian dimaksudkan agar jika memang masih ada benda purbakala, maka benda tersebut dapat diselamatkan dan tidak rusak terkena proyek pelebaran jalan.
Proses penggalian penyelamatan dilakukan selama enam hari oleh delapan petugas BPCB. Dengan dibantu beberapa warga setempat, penggalian dilakukan pada jarak lima meter dari batas badan jalan umum depan situs. Ada lima kotak gali yang secara khusus diteliti. Masing – masing kotak berukuran 2 meter X 2 meter dengan kedalaman sekitar 3 meter. Petugas juga melakukan pengeboran dengan kedalaman sekitar 1,5 meter.
Namun, sampai saat ini belum ada temuan benda purbakala yang didapatkan. Petugas hanya menemukan fragmentaris berupa batu bata kuno yang sudah pecah.
“Kami akan terus melakukan penggalian. Jika memang ditemukan benda purbakala tentu dapat segera diselamatkan,” kata M Ikwan, ketua tim penggalian, Senin (21/1/2013).
Arca totok kerot sendiri merupakan peninggalan purbakala pada jaman Kerajaan Kediri. Arca berbentuk dwarapala setinggi tiga meter tersebut ditemukan sekitar 1981. Saat ini, kondisi arca hanya memiliki satu tangan. Dengan jenis arca yang biasanya merupakan berada di depan komplek candi, maka banyak orang meyakini disekitar situs masih terdapat banyak peninggalkan purbakala.
Terpisah, Plt Kabag Humas Pemkab Kediri, Edhi Purwanto membenarkan adanya proyek pelebaran jalan di depan situs totok kerot. Proyek tersebut dilakukan untuk meningkatkan sarana dan prasarana jalan yang mengarah ke pusat kabupaten dan kawasan Simpang Lima Gumul (SLG). Namun Edhi memastikan, proyek tersebut tidak akan mengganggu keberadaan situs.
“Tentu pelaksanaan proyek mempertimbangkan berbagai aspek, khususnya tetap menjaga kelestarian situs purbakala,” ujarnya