Mahasiswa Asal Jakarta Minta Penangguhan SPP
"Sekarang ini jangankan untuk membayar SPP, sisa uang saya sangat mepet sekali.
Penulis: Siti Yuliana | Editor: Adi Agus Santoso
Ovandri, mahasiswa semester pertama Jurusan Ilmu Komunikasi mengaku menjadi salah satu korban tidak langsung banjir Jakarta. "Saya ingin meminta penangguhan, atau penundaan sementara untuk membayar SPP," ucap ovandri di gedung rektorat UB, Jumat (18/1/2013).
Keluarganya yang di Jakarta Timur bukan tidak memiliki uang, namun karena bank dan ATM tidak ada yang aktif, uang itu tidak bisa dikirimnya. "Keluarga sudah mencoba mencari bank atau ATM, semuanya tidak aktif," bebernya sedih.
Karena itu, dia berusaha mencari informasi untuk mendapatkan penundaan membayar SPP hingga akses bank atau ATM normal kembali. "Sekarang ini jangankan untuk membayar SPP, sisa uang saya sangat mepet sekali. Mungkin hanya cukup untuk ongkos ke Jakarta," urainya.
Ovandri harus membayar SPP Rp 3,3 juta per semester. Batas waktu pembayaran SPP berakhir 2 Februari 2013. Sementara dia tidak yakin, kapan keluarganya bisa mengirimkan uang dengan kondisi seperti itu.
Sayangnya, usaha Ovandri untuk meminta keringanan ini kurang berhasil. Pasalnya dia belum memperoleh tanda tangan dari pembantu dekannya, sebagai syarat meminta penundaan SPP. "Sementara ditolak karena belum ada surat dari pembantu dekan, jadi saya akan urus suratnya dulu," jelas dia.
Kepala Bagian Keuangan dan Administrasi Imam Safi'i berjanji, akan memberikan penundaan SPP tanpa harus memperoleh tanda tangan dari pembantu dekan. "Suruh menemui saya langsung, kami akan mengabulkannya," kata Imam Safi'i.