Emma Haves Mengaku Sulit Membuat Batik
"Awalnya saya pikir mudah saja, ternyata sulit sekali," aku Emma
Penulis: Siti Yuliana | Editor: Adi Agus Santoso
Butuh waktu sekitar 30 menit bagi Emma, untuk menyelesaikan motif bunga di atas kain berukuran 1,15 meter x 2 meter. Setelah motif selesai dibuatnya, tahap selanjutnya adalah melapisi motif pada kain dengan tinta. Agar tinta bisa tergores rapi, maka Emma harus menggunakan alat yang bernama canting.
Pada bagian menyanting inilah, Emma merasa sangat kesulitan. Ia menilai, membuat batik tidak semudah yang ia bayangkan. "Awalnya saya pikir mudah saja, ternyata sulit sekali," aku Emma sambil tertawa, Rabu (9/1/2013).
Miranda McCallum juga tidak kalah semangatnya, untuk belajar membatik. Dosen Ilmu Pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Australia itu optimis pasti bisa membuat batik. "Sekarang saya menggambar motif manusia yang sedang bermetamorfosis," ujarnya.
Miranda sudah mengenal batik semenjak datang ke Indonesia setahun lalu. Saat mengunjungi Yogyakarta, Miranda langsung membeli beberapa stel batik untuk dipakai dan sebagai oleh-oleh. "Saya punya tiga pasang baju batik, saya berikan adik-adik saya sebagai oleh-oleh," aku wanita berusia 36 tahun ini.
Selain Emma dan Miranda, ada sekitar 42 orang Australia lainnya yang juga belajar membatik. Mereka terdiri dari 25 mahasiswa Deakin University Australia dan 19 dosen atau guru.
Belajar membatik merupakan salah satu tujuan, mengikuti program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) yang dicanangkan pemerintah Indonesia dengan negara-negara tetangga. Selain belajar budaya Indonesia, tujuan utama Pemerintah Australia mengirimkan warganya ke Indonesia untuk belajar Bahasa Indonesia. Di Indonesia, mereka ditempatkan di UIN-Maliki Malang selama dua bulan, hingga mahir berbahasa Indonesia.
Bisri Mustofa, pendamping mahasiswa BIPA dari UIN-Maliki Malang menuturkan, belajar membatik akan dilakukan hingga 10 kali pertemuan. Selain mereka kenal batik, tujuan program membatik agar warga Australia bisa membuat batik yang nantinya akan dia promosikan di negaranya. "Kami juga ajarkan mereka memasak makanan khas Indonesia," kata Bisri.